Page 117 - Sun Flower Full Naskah
P. 117
Kyung-Soo.
***
Hae-Seol tengah duduk sendiri, ia berada di sebuah ta-
man. Nyaman sekali melihat daun-daun berguguran. Setidakn-
ya ia ingin sendiri untuk menenangkan pikirannya atas kejadian
beberapa hari lalu. Masih terkenang di ingatan Hae-Seol melihat
Kyung-Shin menangis.
Tak ada lagi bagian mimpi sesudah itu yang diingat
Hae-Seol. Daun-daun juga berguguran saat itu, saat ia dan Lee
So-Ra akan pergi jalan-jalan dan mereka mengenakan setelan
yang sama. Sudah sangat lama sejak Hae-Seol terbangun dari
mimpi panjang yang sekarang masih lekat di memorinya. Han-
ya saja ia lupa ending naskah di mimpinya.
Ia tertunduk lesu, lalu mendengar derap langkah meng-
hampiri. Pastilah itu bukan So-Ra sebab tadi Lee So-Ra menema-
ni Bunda di salon bersama tamu Bunda. Hae-Seol masih menun-
duk saat langkah itu semakin dekat di hadapannya, jelas bukan
So-Ra, kaki itu adalah milik seorang lelaki. Iya! Dan lelaki itu
tampan, Hae-Seol mendongak melihat wajah lelaki itu. Ia kaget,
refleks ia berdiri.
“Ray…”
Hae-Seol tersenyum, ia bahagia. Sangat. Sudah begi-
tu lama ia ingin bertemu lelaki ini. Ia sempat kecewa saat Park
Kyung-Shin mengatakan bahwa Hae-Seol tak dapat menemuin-
ya. Namun, sekarang lelaki ini berdiri di hadapan Hae-Seol.
“Ray…” ucap Hae-Seol lagi, namun kenapa Ray seperti
tak bahagia saat melihatnya. Ray harusnya tertawa bahagia dan
berkata; good morning Nuna… ready? Ah, bukankah itu kata-kata
Ray saat di mimpi Hae-Seol? Lelaki yang ada dihadapannya se-
karang tak akan mungkin memanggilnya Nuna, sebab kata Park
Kyung-Shin, adiknya seumuran dengan Hae-Seol.
Hae-Seol ingin mengatakan kalau ia sangat merindukan
suara dan tawa Ray, tapi lelaki di hadapannya ini tak akan mun-
gkin tahu. Bahkan sejak tadi ia sudah keheranan karena Hae-
Seol memanggilnya Ray.
111

