Page 115 - Sun Flower Full Naskah
P. 115
yang berjarak tak jauh dari Ayahnya melihat airmata mengalir
dari sudut mata lelaki itu.
“Maafkan Ayah, ini keterpaksaan. Tidak ada jalan
lain…” katanya kemudian.
Park Kyung-Shin tersenyum saat mendengar Ayahnya
mengatakan itu. Ia sudah sangat lama ingin melihat keluarganya
damai. Namun, apa yang dilihat Kyung-Shin kemudian adalah
sang Ayah yang menembakkan senjata ke kepalanya sendiri.
“Ayaaahhh…”
Sekali lagi, siapa yang menyukai kehilangan? Tidak
ada. Sejahat apapun orang itu pastilah ia pernah mengasihi den-
gan sepenuh hatinya. Pastilah ia pernah menyayangi setulus
hati. Dan tentu ia juga pernah mencintai dengan sangat. Park
Kyung-Shin menangis, silakan kalau ada orang yang ingin men-
gatakannya lemah karena tangisannya, tapi ia benar-benar tak
bisa menahan airmata untuk keluar. Ia teringat saat Kyung-Shin
kecil naik di pundak Ayah, ia bahkan tidak melupakan sedikit-
pun kenangan tentang Ayahnya.
Hae-Seol gemetar melihat apa yang sedang terjadi. So-
Ra bahkan memegangi dadanya, ia juga merasakan sesak dan
benar-benar paham akan sakitnya kehilangan. So-Ra menangis,
ia sedih karena Ayah Kyung-Shin memilih mengakhiri hidup
seperti itu, ia juga sedih melihat Park Kyung-Shin menangis, dan
ia sedih karena ia tahu bahwa kehilangan orang yang dicintai
benar-benar menyakitkan.
***
Kang Ji-Woo benar-benar tak dapat menahan diri, ia be-
berapa kali mendengar suara tembakan. Namun, saat ia keluar
dari mobil, Kang Ji-Woo melihat seseorang berlari lalu masuk
ke mobil. Lelaki yang dilihat Kang Ji-Woo pastilah terkena tem-
bakan yang tadi ia dengar sebab kaki orang itu tertatih saat ber-
lari.
Memilih mengikuti lelaki tadi, Kang Ji-Woo masuk lagi
ke mobil. Tanpa sadar ia berhenti di depan rumah yang sangat
dikenalnya. Dulu semasa kecil ia sering kesana untuk bermain
109

