Page 114 - Sun Flower Full Naskah
P. 114

tak dengan itu, Hae-Seol dan So-Ra juga sudah beradu pukulan
          dengan penjahat yang mengelilingi mereka. Jaket kulit hitam
          yang dipakai Hae-Seol sobek di bagian lengan karena berusaha
          menghindar dari tembakan. Itu jaket kulit dari Bunda, ia marah
          karena orang lain merusak jaket kesayangannya.
                 “Ambil ini!” So-Ra dengan napas yang terengah-engah
          melemparkan senjata pada Hae-Seol yang berhasil direbutnya
          dari penjahat di dekat mereka. “So-Ra, lumpuhkan saja. Jangan
          membunuh,”  kata Hae-Seol  yang masih  sedikit  teringat pada
          mimpinya. So-Ra mengangguk lalu melayangkan tendangan
          dan menjatuhkan senjata yang diarahkan padanya.
                 Hae-Seol tidak lupa dengan wajah empat orang pen-
          jahat yang dilihatnya saat menyelamatkan Bunda. Dan kali ini
          Hae-Seol harus meminta maaf lagi pada mereka bukan karena
          kaki mereka dilindas mobil lagi tapi karena Hae-Seol terpaksa
          harus melumpuhkan dan meninggalkan peluru di kaki mereka.
          Empat orang sudah lumpuh, masih ada tiga orang lagi yang ten-
          gah berhadapan dengan So-Ra, Hae-Seol sedikit menyesal be-
          lum sempat mengajari So-Ra menembak.
                 “Ayah menyayangi kalian karena itu Ayah ingin mem-
          berikan  kehidupan yang layak. Sebenarnya  Ayah juga tidak
          mempermasalahkan warisan kakekmu, Ayah hanya kesal kare-
          na kakek bodohmu itu berkali-kali merendahkan Ayah.”
                 Park Kyung-Shin yang meringis memegangi lengannya
          pun terdiam saat mendengarkan penjelasan Ayahnya. Ia bahkan
          tahu Ayahnya memang lelaki biasa yang secara finansial berbe-
          da dengan Ibunya.
                 “Ayah senang saat kakekmu meninggal karena seran-
          gan jantung.”
                 Kyung-Shin ingat saat itu kakeknya terkejut mendengar
          Ibu Kyung-Shin meninggal.
                 “Tapi sebenarnyaa…” kalimatnya menggantung, seolah
          ada hal besar yang ingin diutarakan. Ayah Park Kyung-Shin lalu
          duduk tersungkur. Pastilah ia mengingat istri yang sangat ia cin-
          tai terbunuh olehnya saat itu. Ayah Park Kyung-Shin kesal kare-
          na ia selalu dibanding-bandingkan dengan saudara iparnya, ia
          benar-benar tak bisa mengendalikan amarah. Lalu Kyung-Shin

                                     108
   109   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119