Page 127 - Sun Flower Full Naskah
P. 127
gat wajahmu, dan di mimpiku, kau seperti melihat sesuatu yang
membuatmu panik dan kau memanggilku beberapa kali. Setelah
itu semuanya gelap dan aku terbangun.”
“Oppa… Oppa… Kang Ji-Woo!” Hae-Seol mengingat saat
itu. Barangkali itu adalah kepingan mimpi Hae-Seol, ketika ia
panik melihat truk besar yang hilang kendali di depan mereka.
Dan seperti benang merah, mimpi yang dialami mereka terikat.
Oleh kebetulan? Rasanya bukan, mungkin itu adalah serpihan
keajaiban.
Hae-Seol terdiam, namun sesungguhnya ia takjub. “Apa
perasaanku berhasil menggapaimu?” sekarang ia ingin meng-
hentikan waktu, Kang Ji-Woo duduk satu meter di hadapannya.
Dan, apa itu? Kang Ji-Woo tersenyum?
“Ah, mianhae. Kau pasti bingung. Tapi, sekarang aku
harus pergi,” kata Kang Ji-Woo lalu tersenyum. Ia melihat Hae-
Seol terdiam setelah mendengar penjelasannya. Namun ia tak
bisa menjelaskan lebih dari itu sebab Kang Ji-Woo tak bisa ber-
lama-lama, ia ada janji dan ia juga tak nyaman dengan orang-
orang di café yang melihatnya dan sesekali memotretnya.
Sebelum Kang Ji-Woo beranjak, Hae-Seol melihat lela-
ki itu memakai kacamata hitam. Hae-Seol memastikan otaknya
merekam dengan jelas, Kang Ji-Woo mengenakan kaos putih
lengan panjang, jeans, jam tangan, sepatu yang juga berwarna
putih dan rambut hitamnya belah samping tapi menutupi ken-
ing. Hae-Seol menghela napas seolah tadi ia tak dapat bernapas
dengan baik.
“Apa aku bermimpi lagi?” ia menepuk-nepuk kedua
pipinya. Namun, kali ini memang bukan mimpi. Hae-Seol
tersenyum.
***
“Kau pasti tidak percaya kan?” Hae-Seol bercerita pada
So-Ra lewat telepon, ia tak bisa bertemu langsung sebab So-Ra
tengah mendapat tugas dari Bunda. Sekarang Hae-Seol di halte
bus, ia akan pergi ke suatu tempat.
121

