Page 125 - Sun Flower Full Naskah
P. 125
khusus di hatinya. Namun ia juga harus berbahagia mendengar
keadaan Kang Ji-Woo sudah membaik.
Perasaan rindu semakin menusuk hati, Hae-Seol ingin
sekali bertemu dengan Kang Ji-Woo. Melihat senyumnya dan
berada pada jarak satu meter saja pasti sangat menyenangkan,
setidaknya ia harus benar-benar memastikan bahwa keadaan
Kang Ji-Woo sudah lebih baik. Namun, ia siapa bagi Kang Ji-
Woo? Bahkan saat bertemu di taman dan di restoran Lee So-Ra,
ia tak berani menyapa, pun Kang Ji-Woo tak mengenalnya. Jadi,
lagi-lagi Hae-Seol harus tenggelam dalam rindu sepihak yang
menggerogoti hati.
Ia harus menyibukkan diri agar rindu itu perlahan sirna,
namun ia juga tak dapat membohongi perasaannya. Salah satu
hal yang paling menyakitkan selain kehilangan adalah merin-
dukan seseorang dan tak tahu apa yang harus diperbuat pada
rindu itu. Hanya membiarkan dalam semoga dan selalu; semoga
rindu itu selalu bisa bertahan hingga ia bisa mengatakan; aku
merindukanmu. Kata pertama yang kutahu sejak mengenalimu
adalah rindu.
Benar bahwa Hae-Seol harus menyibukkan diri, ia harus
menyelesaikan desainnya, setelah itu ia harus berkutat lagi di
ruangan. Setidaknya mendapat bahan kain terbaik cukup untuk
membuat Hae-Seol tersenyum. Ah, ia sangat bersahabat dengan
jarum-jarum dan mesin jahit. Di tengah kesibukan itu, Hae-Seol
mendengar pintu diketuk. Seingatnya ia tidak punya janji den-
gan siapapun. Jika itu Bunda atau So-Ra, mereka akan langsung
membuka pintu.
“Teureo oseyo! ”
5
Bersamaan dengan pintu yang terbuka, jari Hae-Seol ter-
tusuk jarum. Ia kaget, ia benar-benar terkejut dan ia benar-benar
harus memastikan bahwa penglihatannya masih baik. Ia melihat
Kang Ji-Woo berdiri di sana. Sekarang apa kau percaya? Pada
rindu yang berasal dari hati maka akan sampai ke hati juga.
“Lee Hae-Seol?” Kang Ji-Woo mengucapkan namanya,
tapi tunggu! Nada bicara yang didengar Hae-Seol sepertinya
ada tanda tanya yang terselip. Hae-Seol pun mengangguk.
5 Silahkan masuk!
119

