Page 130 - Sun Flower Full Naskah
P. 130
karang ingin sekali tertawa.
“Kenapa? Aku hanya memberikan permen, bukan me-
minta maaf. Jangan tersanjung!”
“Oh, jadi permen ini sebagai permintaan maaf karena
tuduhan itu…”
“Aniyo . Aku hanya senang karena ini permen kesu-
7
kaanku,” jawab Hae-Seol. Daripada ia harus melihat wajah ke-
sal Park Kyung-Soo lagi, lebih baik ia berkata seperti itu dan
memang permen itu adalah permen kesukaannya. Kyung-Soo
pun pergi berjalan meninggalkan Hae-Seol, ia bahkan tak pamit.
Tapi, untuk apa pamit? Ia tak sedekat itu dengan Hae-Seol.
“Ray, komawoyo…” Hae-Seol setengah berteriak, ia
tersenyum sambil mengayunkan permen yang diangkatnya. Ia
melihat Kyung-Soo berhenti dan menoleh ke arahnya.
“Tch! Apa dia benar-benar suka permen itu?” Park
Kyung-Soo tak menjawab apa-apa. Ekspresinya pun datar, ia
melangkahkan kakinya lagi.
Mungkin nanti saat bertemu Park Kyung-Soo lagi, Hae-
Seol harus memberi hadiah pada lelaki itu, topi merah misalnya.
Ah, kenapa pakaian Kyung-Soo selalu formal begitu? Memakai
kemeja biru muda, dasi bergaris biru, jas dan celana yang ber-
warna hitam lalu sepatu hitam yang mengkilap. Sangat bertolak
belakang dengan sosok Ray, lelaki yang dalam mimpi Hae-Seol
sering mengenakan jeans yang sedikit sobek di bagian lutut,
kaos longgar dan topi. Ray juga suka mendengarkan musik, dan
ia humoris.
“Ah! Kenapa aku jadi membeda-bedakan penampilann-
ya,” gerutu Hae-Seol sambil membuka bungkus permen.
Ternyata rindu itu begitu, ketika hampir menyerah ba-
rulah hadir jawaban. Ketika rindu benar-benar diambang kepu-
tusasaan, barulah muncul harapan. Hae-Seol bahagia. Ia sangat
bahagia, hingga tak berhenti tersenyum pada dirinya sendiri.
Permen jeruk yang dimakannya terasa sangat manis.
***
7 Tidak
124

