Page 143 - Sun Flower Full Naskah
P. 143
Tiga Belas
ari pertama turun salju, tidak seromantis yang
dibayangkan Hae-Seol sebab ia harus mera-
Hsakan dingin yang luar biasa meski ia sudah
mengenakan winter coat tebal. Ia tengah menunggu bus seka-
rang, berharap kelak ia akan menemukan sesuatu lain yang
menghangatkan.
“Hae-Seol… ayo bareng!” dan sesuatu yang menghan-
gatkan itu juga berupa dijemput oleh So-Ra dan ada cappuccino
hangat di mobilnya. Mimpi Hae-Seol sedikit terlintas, musim
dingin adalah saat ia menemukan banyak hal yang menghangat-
kan hatinya tetapi kehangatan itu cepat sekali berakhir. Dan jejak
di jalan bersalju yang diingat Hae-Seol, ia tak pernah melupakan
itu.
“Setelah meeting nanti, aku mau mengajakmu ke suatu
tempat,” kata Hae-Seol sambil menikmati cappuccino. Suhu yang
dingin dengan jalanan bersalju dan bangunan memutih tak lagi
membuatnya kedinginan, ia harus berterimakasih pada So-Ra.
Kelak ia juga akan mengajak So-Ra ke tempat yang belum lama
ini diketahui Hae-Seol.
“Wah, kemana nih?”
“Ada lah, nanti kau akan tahu sendiri.”
Lee So-Ra penasaran, pasti itu adalah tempat yang be-
lum pernah ia kunjungi sebelumnya sebab Hae-Seol tak akan
merahasiakan jika ia sudah tahu. So-Ra membiarkan Hae-Seol
tak memberitahunya, ia mengemudi dengan hati-hati sebab se-
karang jalanan cukup licin, di beberapa titik banyak salju tebal
yang menumpuk di jalan.
Selama perjalanan, Hae-Seol menceritakan pada So-Ra
tentang pertemuannya dengan Kang Ji-Woo dan Ray, namun
So-Ra sedikit dibingungkan sebab Hae-Seol menyebut nama
137

