Page 148 - Sun Flower Full Naskah
P. 148
Dering ponsel Hae-Seol berbunyi terlalu pagi, seper-
tinya itu bukan alarm dan bukan juga telepon dari seseorang.
Pukul 04:25 pagi, Hae-Seol bangun dan meraih ponselnya.
“Bisa bertemu hari ini?” ia bahkan ingin tertawa keti-
ka membaca pesan itu. “Kirain mau bertemu sekarang,” gerutu
Hae-Seol kemudian beranjak cuci muka lalu ia melihat lagi pe-
san tadi dan Hae-Seol melihat nama Ray. Ia mengucek-ngucek
matanya, mungkin saja ia salah lihat tapi tidak. Ray benar-be-
nar mengirim pesan padanya. Hae-Seol membalas dan bertanya
dimana Ray ingin bertemu? Membaca balasan dari Ray ia tahu
tempat yang dimaksud Ray adalah sebuah mall di daerah Seoul.
“Masa nanti aku harus keliling mall untuk mencari dia,
apa tidak bisa dispesifikkan lagi? Di lantai berapa dan dekat apa
misalnya,” namun Hae-Seol tidak membalas lagi, nanti saja jika
memang harus menanyakan itu. Ia juga sudah lama tak kesana,
rasanya mata seorang perempuan juga butuh vitamin seperti
melihat barang-barang di etalase kaca, melihat aksesoris-akseso-
ris cantik atau berbagai jenis kosmetik dan Hae-Seol berencana
akan membeli parfum.
Dengan begitu tangannya tak benar-benar kosong keti-
ka keluar dari sana kelak. Hae-Seol memang cukup hemat meski
sekarang keuangannya sudah membaik, ia lebih banyak meny-
isihkan uang untuk ia tabung dan membeli barang atau sesuatu
yang benar-benar sedang ia butuhkan meskipun kadang masih
ada pengecualian. Tentu perempuan yang sangat paham mas-
alah ini, atau orang-orang sering menyebutnya sebagai kebutu-
han tak terduga.
***
Lee So-Ra menemani Bunda ke Paju dan selama jam
kerja Bunda mempercayakan urusan kantor pada Hae-Seol.
Bunda juga memintanya mengirim orang untuk menyerahkan
baju yang akan dipakai Kang Ji-Woo. Beruntung sekali superstar
seperti Kang Ji-Woo karena pakaian dan segala kostum diurus
langsung oleh Ibunya.
142

