Page 151 - Sun Flower Full Naskah
P. 151

nutupi kening dan tertutup topi merahnya. Ia juga mengenakan
          jam tangan dan memakai sneakers. Hae-Seol yang sudah selesai
          membeli parfum tidak tahu harus membicarakan apa pada Ray.
          Jika saja sekarang ia tengah bermimpi, tentu Ray akan banyak
          bercanda dan membuatnya tertawa.
                 Menyadari suasana  hening diantara mereka, Ray pun
          menyusun kata-kata di kepalanya. “Sudah makan?” Ray memu-
          tuskan itulah pertanyaan terbaik. “Ayo kita makan!” Hae-Seol
          tersenyum dan mencoba mengakrabkan diri, ia bahkan tak men-
          jawab pertanyaan Ray tapi justru mengajak lelaki itu makan.
                 “Kau lebih suka yang mana? Steak, pizza atau pasta?”
          tanya Hae-Seol.
                 “Disini  kita hanya bisa  makan  di  tempat itu,” Ray
          menunjuk tempat makan yang berlabel halal. Dan di sana hanya
          menyediakan makanan khas Korea, tak ada satu pun dari ketiga
          menu yang disebutkan Hae-Seol tadi.
                 Setelah duduk, Hae-Seol merasa tak asing dengan inte-
          rior tempat mereka makan, tidak beda jauh dengan restoran So-
          Ra. Namun restoran So-Ra juga menyediakan menu yang tadi
          sempat Hae-Seol sebutkan.
                 “Terima  kasih sudah memakai  hadiah  dariku,”  kata
          Hae-Seol sambil melihat daftar menu. Harusnya Ray yang ber-
          terimakasih karena telah diberi hadiah, tetapi ia tak terang-teran-
          gan mengatakan itu.
                 “Setelan yang bagus,” mendengar Ray mengatakan itu,
          Hae-Seol ingin sekali tertawa, mungkin memang bagus tapi san-
          gat tidak pas dipakai ketika musim dingin. “Itu hanya komen-
          tar. Bukan pujian apalagi ucapan terima kasih. Aku tak pernah
          minta diberi hadiah,” lanjut Ray namun yang dilihat lelaki itu
          sejenak kemudian adalah Hae-Seol tertawa di hadapannya.
                 “Ada apa?”
                 “Hm? Tidak. Tidak ada apa-apa.”
                 Meski tak lagi tertawa tapi Hae-Seol masih saja menu-
          tupi mulutnya dengan telapak tangan. Ia belum benar-benar
          berhenti tertawa, kata-kata Ray bahkan sudah membuatnya ken-
          yang bahkan sebelum mereka makan.
                 “Oh iya, kau juga latihan menembak?” Hae-Seol men-

                                      145
   146   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156