Page 152 - Sun Flower Full Naskah
P. 152
cari tema percakapan lain agar ia bisa menahan tawanya. Dan ia
memang penasaran saat melihat Ray di tempat latihan menem-
bak saat itu.
“Aku hanya mengurus sesuatu disana.”
“Oh, memangnya apa?”
“Ya, sesuatu.”
“Sesuatu seperti apa?”
“Ya seperti sesuatu.”
“Haha…” pada akhirnya tema apapun percakapan mer-
eka, Hae-Seol tetap tertawa. Ia bahkan tak habis pikir bagaima-
na bisa ekspresi Ray terlihat biasa saja saat mengatakan sesuatu
berkali-kali. Dan sekarang Hae-Seol harus berhenti tertawa se-
bab menu yang mereka pesan sudah disajikan.
***
Hae-Seol tengah berjalan pulang saat ia merasa ada
langkah yang mengikutinya. Mengingat kejadian bersama So-Ra
saat itu, Hae-Seol menaruh curiga dan mempercepat langkahn-
ya. Tetapi langkah yang mengikuti Hae-Seol pun lebih cepat. Be-
runtung ia sudah tiba di depan apartemen. Ia sempat menoleh
dan tak ada siapa-siapa lagi, tapi ia melihat sesuatu tergeletak di
belakangnya.
“Aish! Jinjja! Siapa sih pengirim bunga ini?” rasa curig-
anya memang sudah hilang tapi ia juga semakin heran dengan
pengirim bunga misterius ini. Ah, tapi Hae-Seol mendapati pe-
san di selembar kertas kecil.
“Besok pagi, di taman pukul 16:00.”
Hae-Seol seperti dipaksa menyusun puzzle, ingin ber-
temu saja seseorang itu harus mengirimkan bunga dengan cara
yang tak biasa. Ia memang sedikit kesal, tetapi hati perempuan
mana yang tidak merasa spesial diperlakukan seperti itu? Seolah
ia akan mendapat kejutan besar.
Banyak hal yang membuat Hae-Seol tertawa hari ini, ia
memang tak salah menyukai musim dingin sebab ada banyak
alasan yang akan menghangatkan hatinya. Sesuatu yang mem-
buat ia tertawa, seperti sesuatu yang diucapkan Ray berkali-kali.
146

