Page 153 - Sun Flower Full Naskah
P. 153

Lelaki itu memang misterius, tapi Hae-Seol tidak ingin menaruh
          curiga pada Ray atas kiriman bunga yang sudah tiga kali ia teri-
          ma. Meski sama-sama misterius, Ray tak akan mungkin melaku-
          kan itu.
                 Dan sesuatu yang disukai Hae-Seol juga seperti ketika
          melihat  ponsel  dan  So-Ra  menelepon.  Pastilah sahabatnya itu
          sudah pulang dari Paju.
                 “Tadi  benar-benar menyenangkan. Memang  bukan li-
          buran sih, kan kerja hehe. Dan teman Bunda tadi sangat baik
          sampai-sampai aku diberi hadiah sebelum pulang.”
                 “Oh ya? Wah, lain kali aku juga harus mengusulkan diri
          untuk ikut bersama Bunda.”
                 “Haha… dan teman Bunda tadi juga designer, dia sangat
          menyukai karyamu.”
                 Hae-Seol senang mendengar cerita So-Ra, terlebih lagi
          ternyata ia juga mendapat bagian dari hadiah yang dikatakan
          So-Ra. Setidaknya meskipun ia tak ikut ke Paju, namanya sudah
          sampai disana.


                                     ***

                 Sama seperti yang dikatakan So-Ra tentang latihan men-
          embak bahwa semua itu butuh proses dan proses juga memakan
          waktu, sama seperti menunggu. Hanya segelintir orang di dunia
          yang suka menunggu dan mungkin Hae-Seol adalah salah sat-
          unya. Selain ia penasaran dengan si pengirim bunga, ia juga ha-
          rus menanyakan banyak hal pada orang itu.
                 Satu jam  berlalu dari waktu yang dijanjikan namun
          Hae-Seol  masih  menunggu. Sesekali  ia  meniup  kedua  telapak
          tangannya, suhu yang dingin masih membuatnya bertahan. Ia
          melirik jam tangan, sekarang sudah satu jam lebih ia menunggu
          tapi pengirim bunga misterius itu tak kunjung datang.
                 “Wah, orang itu maunya apa sih?” gerutu Hae-Seol
          sambil melihat-lihat kalau saja ada seseorang yang menuju ke
          arahnya. Dan benar saja, memang ada seseorang tapi Hae-Seol
          tak mengenal wajah itu. “Sudah pukul 17:45, aku harus pulang,”
          kata  Hae-Seol pada lelaki  yang  menghampirinya. Tapi lelaki

                                      147
   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158