Page 172 - Sun Flower Full Naskah
P. 172
“Apa yang ingin kukatakan pada orang yang tinggal di
atas awan? Aku bahkan tak bisa terbang.”
Sejenak Hae-Seol menyadari kata-katanya sedikit puitis,
ia mengira dirinya tertular oleh si pengirim bunga. Ia hanya in-
gin mengatakan itu. Dan memang seperti itulah adanya. Ken-
yataan tak bisa dipungkiri. Ia hanya mencoba bersikap realistis.
***
“Hae-Seol, kau baik-baik saja kan?” ia tengah menerima
telepon dari Bunda, sejenak Hae-Seol berpikir pertanyaan Bun-
da mirip dengan pertanyaan So-Ra kemarin. “Iya Bunda, aku
baik-baik saja. Bunda apa kabar?” Hae-Seol tersenyum saat men-
dengar Bunda mengatakan kabar baik juga. Mungkin Bunda
khawatir karena cerita dari So-Ra, tapi sepertinya bukan sebab
Bunda menekankan untuk hati-hati dan jangan pergi sendirian,
oh astaga! Sekarang ia tengah jalan-jalan sendiri di tempat yang
membuat pikirannya tenang. Bukan taman, tapi tempat terakhir
di mimpinya yang juga menjadi tempat ia bertemu Bunda.
Ia tidak mengatakan pada Bunda bahwa ia tengah sendi-
ri sekarang, ia juga berniat pulang. Hae-Seol tak sempat bertanya
kenapa Bunda mengingatkannya seperti itu? Bukankah masalah
dengan Ayah Park Kyung-Shin sudah selesai? Ah, entahlah…
Hae-Seol hanya akan beranjak pulang sekarang.
Ponselnya kembali berdering, dan kali ini nama Ray
yang muncul di layar. “Hae-Seol, kau di mana?” ia seperti se-
dang diperhatikan, kemarin oleh So-Ra, tadi Bunda dan seka-
rang Ray. “Mm, kau ingat waktu memberiku permen? Aku di
sini sekarang,” jawab Hae-Seol sambil tersenyum. Namun Ray
tak membiarkan ia tersenyum lebih lama. “Kenapa kau di sana?
Tunggu aku, jangan matikan teleponmu, aku akan ke sana!”
“Ray kenapa sih?” pikir Hae-Seol. Ia mengingat lagi,
Hae-Seol memang belum pernah melihat Ray tersenyum dan
kali ini lelaki itu bicara dengan nada yang sedikit tinggi. Tapi,
Hae-Seol mendengar kekhawatiran dalam kata-kata Ray. Ia ha-
nya menuruti permintaan Ray, namun pandangan Hae-Seol se-
karang tertuju pada sebuah mobil di depannya. Satu, dua, tiga,
166

