Page 174 - Sun Flower Full Naskah
P. 174
“Kau tidak apa-apa?” tanya Kang Ji-Woo yang mendeka-
ti Hae-Seol, ia ingin mengiyakan lalu tersenyum, namun justru
pucat saat melihat penjahat tadi mengarahkan pistol ke arah
Kang Ji-Woo dan dirinya.
Sejenak kemudian Hae-Seol mendengar suara tem-
bakan, namun ia dan Kang Ji-Woo tak terluka. Orang yang men-
garahkan pistol tadi justru terkapar. Ray baru tiba dan tanpa
segan menembak. Kelak Hae-Seol harus bertanya banyak, sebab
rakyat biasa dilarang memiliki senjata dan Ray tak boleh melan-
jutkan produksi senjata yang dulu dilakukan Ayahnya.
“Hae-Seol… ayo pergi dari sini.”
“Dan kau juga, Kang Ji-Woo,” kelak mereka pasti akan
bertengkar lagi, namun sekarang mereka benar-benar harus per-
gi. Sesekali Ray masih menembak, mereka berlindung di balik
pohon sebelum sampai ke mobil Ray.
“Kang Ji-Woo, bawa Hae-Seol ke mobil ppalli !”
1
Sebenarnya Kang Ji-Woo tak pernah mau menuruti
kata-kata Ray, tapi kali ini harus dilakukannya. Ray membuat
Kang Ji-Woo malu dengan usianya, kelak ia benar-benar harus
meluapkan amarah yang tertahan. Ia bersama Hae-Seol masuk
ke mobil Ray, sejenak Kang Ji-Woo mengakui keberanian Ray.
Sepupunya itu memang menyukai hal-hal menantang dan dulu
Ray juga menjalankan wajib militer bersamaan dengan Kang Ji-
Woo dan Park Kyung-Shin, usianya bahkan masih sangat muda
kala itu.
“Hae-Seol, kau tak terluka kan?” Ray bertanya sambil
melihat Hae-Seol yang sekarang duduk di sebelahnya. Terlihat
Hae-Seol menggeleng dan Ray membelokkan mobil lalu pergi
dari sana. Posisi itu berbanding terbalik dengan yang ada di
mimpi Hae-Seol dulu, sebab sekarang Kang Ji-Woo duduk di
belakang. Wajahnya tak bersahabat karena ia masih kesal pada
Ray.
***
1 Cepat
168

