Page 173 - Sun Flower Full Naskah
P. 173

empat, dan lima orang keluar. Hae-Seol pernah mengalami ini
          sebelumnya. Dan ia tahu betul orang-orang itu.
                 “Hae-Seol… Hae-Seol… jawab aku!” Ray masih ber-
          bicara di telepon, namun Hae-Seol tengah mengatur napasnya
          dan ia benar-benar lagi berpikir; mau apalagi orang-orang ini?
          “Ray…” gumam Hae-Seol. Lalu menjauhkan ponsel dari teling-
          anya. Mungkin sekarang ia harus bercakap-cakap dulu dengan
          lima orang yang sekarang tepat berdiri di hadapan Hae-Seol.
                 Dalam keadaan sekarang ia mengingat So-Ra pernah
          berkata; mereka memakai otot, bukan otak. Hae-Seol tersenyum
          kecut. Ah, So-Ra dimana? Namun Hae-Seol tak akan meminta
          So-Ra datang sekarang, ia hanya akan membahayakan sahabat-
          nya lagi.
                 “Tidak perlu bertanya apa-apa, sekarang ayo ikut kami!”
          kata salah satu diantara lima orang itu.
                 “Kemana?” tanya Hae-Seol sambil bergaya cuek, meski
          ia berkepribadian ramah, ia bisa menunjukkan ekspresi apapun
          dalam sekejap.
                 “Kubilang tidak perlu bertanya,” kata orang itu lagi dan
          sekarang nadanya membentak.
                 “Kalau kalian adalah polisi, aku mau lihat surat penang-
          kapannya,” Hae-Seol berpikir mungkin saja ini karena ia yang
          memakai identitas lain, namun polisi tidak akan menangkap
          dengan ancaman, seperti yang dilakukan orang itu sekarang.
                 “Berkata seperti itu berarti kau memilih mati,” menden-
          gar itu Hae-Seol tak bergidik ngeri, ia justru terlihat santai. Ia
          tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
                 Hae-Seol menangkis pukulan yang hendak mengenai
          wajahnya. “Di kehidupan selanjutnya, kau akan menyesal kare-
          na tak memakai otakmu,” Hae-Seol memberikan pukulan dan ia
          harus benar-benar memperhatikan celah kalau saja ia diserang
          sebab dari jumlah saja sudah tak seimbang.
                 “Harusnya kau berhadapan denganku!” seseorang
          muncul dan langsung menghadiahi tendangan yang sama rata
          pada kelima orang itu. Sosok itu selalu saja membuat Hae-Seol
          berdebar bahkan di saat seperti sekarang. Bukan Ray, tapi Kang
          Ji-Woo yang entah bagaimana bisa menemukannya.

                                      167
   168   169   170   171   172   173   174   175   176   177   178