Page 204 - Sun Flower Full Naskah
P. 204

fia diberi hukuman mati.
                 Ray yang saat itu menembak anak buahnya tahu bah-
          wa yang ia dengar adalah kebohongan. Ayahnya tidak mungkin
          tertembak oleh Hae-Seol. Ia menjadi sangat marah karena ber-
          ita kematian sang Ayah. Dan Ray harus menyelesaikan tugas
          Ayahnya dan tugas dari Negara. Sejauh ini tak ada yang tahu
          bahwa Ray adalah seorang mata-mata, jantungnya berdegup ce-
          pat saat Hae-Seol bercanda mengatakan Ray adalah seorang de-
          tektif. Meskipun Hae-Seol hanya bercanda, tapi itu nyaris tepat.
          Tanggung  jawab yang  dipikul Ray sekarang adalah menyele-
          saikan masalah mafia yang meresahkan dan mengancam kea-
          manan  masyarakat,  menangkap  mafia  itu  dan  membongkar
          seluruh jaringan serta bisnis kotornya. Ia dibolehkan menembak
          bos dan anggota mafia jika keadaan sangat membahayakan. Tu-
          gas itu Ray dapatkan khusus karena ia sendiri yang meminta
          menangangi masalah-masalah itu sendirian.
                 Empat orang dengan tatapan menghakimi Ray sekarang
          sedang tertegun, sudah! Ia sudah tak merahasiakan apa-apa lagi
          sekarang. Ia sudah mengatakan semuanya.
                 “Aku merasa  seperti orang yang sangat bodoh,” kata
          Kyung-Shin.
                 “Aku juga,  Hyung,” sambung Kang Ji-Woo.  Dari ke-
          jadian yang sangat serius itu mereka berdua tak tahu padahal
          keluarga mereka terlibat. Bunda atau pun Kang Dong-Sun sama
          sekali tak menceritakan apa-apa pada  Kang Ji-Woo  dan  Ray
          baru sekarang bercerita pada Park Kyung-Shin, hal itu membuat
          Kyung-Shin benar-benar menyesal karena dulu ia menjauh dari
          keluarga.
                 “Hyung, kau juga pernah dicari  dan akan disandera
          saat itu. Tapi karena kau tak pernah pulang dan selalu berpin-
          dah-pindah, mereka tak bisa menemukanmu. Ayah yang meng-
          etahui itu hanya bisa terus-terusan memarahimu dengan tujuan
          agar kau memang tak pulang. Hyung, Ayah sangat bangga pada-
          mu. Ayah benar-benar bangga pada putra sulungnya.”
                 Park Kyung-Shin meneteskan airmata mendengar penu-
          turan Ray, rasa sakit memukul dadanya, sekarang ia benar-be-
          nar menyesal. Sudah terlalu banyak kesalahan yang ia limpah-

                                     198
   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208   209