Page 212 - Sun Flower Full Naskah
P. 212

Mereka bertemu saat itu karena Kang Dong-Sun meren-
          canakan untuk membangun restoran di Jepang dan tanah yang
          akan dibeli adalah milik orangtua Oh Eun-Ha. Kang Dong-Sun
          tahu bahwa orangtua Oh Eun-Ha sudah  lama  meninggal dan
          tanah itu beralih kepemilikan. Sudah jelas bahwa Kang Dong-
          Sun saat itu hanya bertemu Eun-Ha untuk penandatanganan
          dokumen karena ia telah membeli tanah dan akan membangun
          restoran. Namun, Kim Tae-Jin salah paham. Sepulangnya, Eun-
          Ha kembali dan bertemu Kim Ha-Na, sayang setelah melam-
          piaskan amarahnya, Kim Tae-Jin justru menembak Eun-Ha yang
          sudah berkali-kali menjelaskan bahwa Kim Tae-Jin hanya salah
          paham.
                 Menurut informasi yang diketahui Hae-Seol dari Ray,
          Kim Tae-Jin memang sudah dijadikan target oleh badan intelijen
          Korea Selatan karena ia berniat menggulingkan Presiden. Kim
          Tae-Jin  yang mengetahui bahwa Kang Dong-Sun  bersahabat
          baik dengan Presiden pun menyusun rencana untuk menghan-
          curkan keduanya. Kim Tae-Jin juga memproduksi senjata secara
          ilegal dan sering melakukan transaksi narkoba. Ayah Ray lah
          yang bertugas untuk mencaritahu tentang bisnis narkoba dan
          mengetahui rencana Kim Tae-Jin untuk menggulingkan Presi-
          den.
                 Hae-Seol kagum pada Ray yang melakukan pekerjaan
          hebat. Tidak salah Ray tak suka dengan kepopuleran, sebab ia
          selalu berada dalam bayang-bayang. Ia selalu bersembunyi dan
          bekerja dengan hati-hati. Totalitasnya pada pekerjaan memang
          sangat mengagumkan, dan Ray mengatakan bahwa masalah Kim
          Tae-Jin bisa jadi adalah tugas terakhirnya. Ray senang bergelut
          dengan dunia kerjanya, tapi teman Ayah Ray menyarankan agar
          ia pergi menikmati masa muda setelah Kim Tae-Jin diberi huku-
          man mati.

                                     ***

                 Hae-Seol tengah berdiri di depan sebuah tempat untuk
          memulangkan segala rasa, ia memang akrab dengan bangunan
          ini, Masjid Seoul. Ia harus menjernihkan pikiran baru kemudian

                                     206
   207   208   209   210   211   212   213   214   215   216   217