Page 215 - Sun Flower Full Naskah
P. 215

seragam baru kita jalan-jalan.”
                 Ha-Na berteriak hore, ia tentu senang sekali sebab dulu
          gadis kecil itu khawatir dengan keadaan Hae-Seol sesaat setelah
          menyelamatkannya. Kim Ha-Na masuk ke mobil dituntun so-
          pirnya. Hae-Seol dan So-Ra mengikuti dari belakang  hingga
          mereka tahu rumah Kim Tae-Jin.
                 “Aku penasaran sekali seperti apa aura rumah itu,” kata
          So-Ra yang tengah membayangkan bahwa di rumah itulah Kim
          Tae-Jin membunuh istrinya.
                 “So-Ra, So-Ra… lihat itu!” Hae-Seol menunjuk Ha-Na
          yang keluar dari mobil dan disambut oleh Kim Tae-Yoon, ga-
          dis kecil itu bahkan tak menoleh dan ia mengabaikan Tae-Yoon.
          Terlihat sosok yang dikenal Hae-Seol tengah berdiri tak jauh dari
          Tae-Yoon, dalam mimpi Hae-Seol, orang itu adalah Kim Tae-Jin.
          Ha-Na juga tak menyapa Ayahnya dan langsung masuk rumah.
          Berbeda sekali, sangat berbeda. Meski rupanya sama,  namun
          Kim Tae-Jin di dunia nyata  yang dilihat Hae-Seol begitu sur-
          am. Wajah itu tak menampakkan wibawa walaupun berpakaian
          rapi. Sosoknya tak terlihat bersahaja meski ia besar dan tinggi.
                 Hae-Seol meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk
          Ray. Lelaki itu harus tahu keberadaan Hae-Seol dan So-Ra seka-
          rang. Mereka berdua tak akan menampakkan diri di hadapan
          Kim Tae-Jin, bisa-bisa mereka juga ditembak nantinya.
                 “So-Ra, lebih baik kita kesana saja.”
                 Memilih menjauh dari rumah Kim Tae-Jin, Hae-Seol dan
          So-Ra masih menunggu Kim Ha-Na. Banyaknya bodyguard yang
          dimiliki Kim Tae-Jin sempat membuat Hae-Seol bergidik ngeri.
          Tapi ia segera tertawa saat menyadari sesuatu. Ia benar-benar
          tertawa sekarang.
                 “So-Ra, coba perhatikan satu-satu penjaga yang berdiri
          itu.”
                 Lee So-Ra pun mengikuti kata-kata Hae-Seol, ia melihati
          satu-satu penjaga di rumah Kim Tae-Jin. Di bagian depan berdi-
          ri enam orang yang berpakaian serba hitam dan berkacamata,
          rasanya tak ada yang aneh, tapi kenapa Hae-Seol tertawa? Pikir
          So-Ra.
                 “Lihat lagi! Lihat penjaga yang berkumis saja,” Hae-Seol

                                      209
   210   211   212   213   214   215   216   217   218   219   220