Page 240 - Gagasan Inovasi Pendidikan Volume 1
P. 240
Inspiring Lecturer Paragon
Andriyani, 1999), dalam pendidikan sejarah, pada studi ke-Islam-an
(Nurhayati, 2009), dan pembelajaran Pendidikan Agama Islam
(Riyadi, 2015; Zuhriyah, 2012). Pengembangan tersebut memang
belum merambah pada area subyek lainnya, termasuk Pendidikan
Kewarganegaraan (PKn) secara konseptual maupun praksis.
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang banyak dikenal
sebagai Pendidikan Demokrasi, memiliki modus operasi dan
karakteristik yang sudah spesifik dalam area Pendidikan. Istilah
tersebut membawa atribut bahwa PKn memang menjadi wahana
demokrasi dan Pendidikan demokrasi sekaligus, maka wajar jika PKn
yang disebut Pendidikan untuk demokrasi bersifat multifacet yang
komprehensif. Dalam demokrasi, warga negara yang terorganisir
biasa melakukan aktivitas advokasi, warga negara memiliki arenanya
saat menjadi advokat bagi pihak yang memiliki status yang tidak
untung secara sosial, politik, maupun ekonomi.
Pendidikan emansipatoris sudah menjadi bagian dari wacana
dalam pendidikan yang setidaknya dimulai semenjak Rousseau. Guru
menjadi sosok yang menghadirkan nuansa emansipasi di kelas, tapi
bukan di kegiatan yang sekadar memindahkan pengetahuan dari guru
ke siswa. Idealnya, siswa dianggap sebagai subyek yang mempunyai
otonomi, guru yang mewujudkan proses pembelajaran yang dimana
siswa diberi kemerdekaan untuk mendapatkan pengalamannya,
mengonstruksikan pengetahuannya dan meningkatkan
keterampilannya.(Pavenkov et al., 2015)
Secara implementatif, pembelajaran yang berpusat pada anak
adalah contoh nyata bagaimana pendidikan emansipatoris beroperasi.
228

