Page 313 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 313

yang digugat terjadi. Karena itu, tindakan atau keputusan yang tidak digugat
                 selama periode tertentu bersifat final dan mengikat.


                 g.  Konsistensi dalam Penafsiran dan Penerapan Hukum Pemilu

                 Kerangka hukum pemilu mesti ditafsirkan dan diterapkan secara konsisten
                 sebagai  upaya  penyelesaian  sengketa  pemilu  yang  baik.  Hal  ini  penting
                 dilakukan mengingat tekanan politik dalam penyelesaian sengketa pemilu
                 akan  sangat  tinggi.  Keberatan  pemilu  umumnya  bersifat  sensitif  dan
                 kontroversial secara politik. Mengingat hal tersebut, maka arbiter/badan
                 penyelesaian sengketa mesti bersikap netral dan memiliki kemampuan dan
                 pengetahuan tentang kepemiluan. Arbiter juga harus memiliki pemahaman
                 yang baik terhadap peraturan perundang-undangan pemilu yang beragam.


                 Sebagai contoh, dalam kerangka hukum pemilihan umum dikenal dua hal
                 yang  berbeda:  pertama,  "Pemilu"  yang  merujuk  pada  penyelenggaraan
                 pemilu nasional (legislatif dan eksekutif); kedua, "Pemilihan" atau "Pilkada"
                 yang merujuk pada pemilihan eksekutif di daerah.


                 Dalam konteks hukum yang berlaku saat ini (ius constitutum), desain jadwal
                 pelaksanaan  pemilu  di  Indonesia  dilaksanakan  secara  serentak,  antara
                 pemilu legislatif dan pemilu presiden. Pemilu serentak dilaksanakan atas
                 perintah  Putusan  Mahkamah  Konstitusi  Nomor  14/PUU-XI/2013,  yang
                 dibacakan  pada  Januari  2014.  Putusan  ini  memerintahkan  mulai  Pemilu
                 2019  dan  seterusnya,  pemilu  di  Indonesia  dilaksanakan  secara  serentak
                 antara pemilihan presiden dengan pemilihan anggota legislatif. Pelaksanaan
                 Pemilu 2019 yang dijadwalkan pada 17 April 2019 sudah menggabungkan
                 pelaksanaan  pemilihan  Calon  Anggota  Legislatif  (meliputi  Calon  Anggota
                 DPR, Calon Anggota DPD, Calon Anggota DPRD Provinsi, dan Calon Anggota
                 DPRD Kabupaten/Kota) serta pemilihan Calon Presiden dan Wakil Presiden
                 secara  serentak  di  seluruh  Indonesia.  Pemilu  yang  kemudian  populer
                 disebut “pemilu lima kotak (lima surat suara)”, kecuali pelaksanaan pemilu
                 di DKI Jakarta dengan empat kotak/empat surat suara karena DKI Jakarta
                 tidak memiliki DPRD Kabupaten/Kota.


                 Sementara  itu,  Pemilihan  Gubernur,  Bupati  dan  Walikota  dilaksanakan
                 secara  demokratis  sebagaimana  diamanatkan  dalam  Pasal  18  Ayat  (4)
                 Undang-Undang  Dasar  Negara  Republik  Indonesia  tahun  1945  maka

                              BAB 7 – PENEGAKAN HUKUM DAN PENYELESAIAN SENGKETA PEMILU     297
   308   309   310   311   312   313   314   315   316   317   318