Page 314 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 314

kedaulatan  rakyat  serta  demokrasi  dari  rakyat,  oleh  rakyat,  dan  untuk
           rakyat  wajib  dihormati  sebagai  syarat  utama  pelaksanaan  Pemilihan
           Gubernur,  Bupati  dan  Walikota  yang  ditegaskan  melalui  pelaksanaan
           Pemilihan  Gubernur,  Bupati  dan  Walikota  secara  langsung  oleh  rakyat
           dengan  berlakunya  Peraturan  Pemerintah  Pengganti  Undang-Undang
           Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota.
           Perppu tersebut selanjutnya disahkan menjadi UU No. 1 Tahun 2015 dan
           sudah diubah dua kali dengan UU No. 8 Tahun 2015 dan UU No. 10 Tahun
           2016.


           Kerangka  hukum  penyelenggaraan  Pemilu  Serentak  2019  secara  umum
           mengacu kepada UU Pemilu, yang menyatukan pengaturan substansi yang
           sebelumnya terserak dalam tiga undang-undang, meliputi UU No. 42 Tahun
           2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, UU No. 15
           Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, dan UU No. 8 Tahun
           2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD.


           UU Pemilu telah memberi landasan pengaturan yang relatif konsisten dalam
           berpegang  pada  prinsip-prinsip  penyelesaian  pelanggaran  dan  sengketa
           pemilu di atas. Pembagian permasalahan hukum pemilu diatur dalam Buku
           Keempat dan Buku Kelima UU ini. Dengan klasifikasi pelanggaran pemilu,
           pelanggaran  kode  etik  penyelenggara  pemilu,  pelanggaran  administratif
           pemilu, sengketa proses pemilu, dan perselisihan hasil Pemilu yang diatur
           dalam Buku Keempat. Beserta tindak pidana pemilu yang diatur dalam Buku
           Kelima. Klasifikasi ini merupakan pengaturan yang bisa dikatakan lebih jelas
           dan sederhana.

           Dalam UU Pemilu juga dijabarkan mekanisme penyelesaian untuk masing-
           masing  pelanggaran  dan  sengketa  yang  diharapkan  efektif  dan
           komprehensif.     Setiap    pelanggaran     diatur    mekanisme      serta
           kelembagaannya. Selain itu, prinsip terkait kebebasan dan biaya yang wajar,
           prinsip kerangka hukum dan peradilan yang cepat, hak-hak pembelaan atau
           mendengar  dalam  proses  hukum  sudah  diatur  dalam  peraturan
           perundangan-undangan  mengenai  sistem  peradilan  di  Indonesia,  seperti
           dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Undang-Undang tentang
           Mahkamah Agung, UU tentang Peradilan Umum, dan sebagainya.





    298     BAB 7 – PENEGAKAN HUKUM DAN PENYELESAIAN SENGKETA PEMILU
   309   310   311   312   313   314   315   316   317   318   319