Page 346 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 346

G. Penyelesaian Perselisihan Hasil Pemilu


           a. Pengertian Perselisihan Hasil Pemilu

           Perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) merupakan buah dari perubahan
           ketiga  Undang-Undang  Dasar  (UUD)  1945,  yang  mengatur  tentang
           wewenang  Mahkamah  Konstitusi  (MK).  Pasal  24C  ayat  (1)  menyebutkan
           bahwa MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
           putusannya  bersifat  final  untuk  menguji  undang-undang  (UU)  terhadap
           UUD,    memutus      sengketa   kewenangan      lembaga    negara    yang
           kewenangannya diberikan  oleh  UUD,  memutus pembubaran  Parpol, dan
           memutus  Perselisihan  Hasil  Pemilihan  Umum  (PHPU).  Pengaturan  lebih
           lanjut  tentang  wewenang  MK  diatur  oleh  UU  No.  24/2003  tentang
           Mahkamah Konstitusi (UU MK).


           Pengertian perselisihan hasil pemilu sebagaimana diatur dalam Pasal 473
           UU Pemilu, menyebutkan:
           (1)  Perselisihan hasil Pemilu meliputi perselisihan antara KPU dan Peserta
               Pemilu  mengenai  penetapan  perolehan  suara  hasil  Pemilu  secara
               nasional.
           (2)  Perselisihan  penetapan  perolehan  suara  hasil  Pemilu  anggota  DPR,
               DPD,  dan  DPRD  secara  nasional  meliputi  perselisihan  penetapan
               perolehan  suara  yang  dapat  memengaruhi  perolehan  kursi  Peserta
               Pemilu.
           (3)  Perselisihan  penetapan  perolehan  suara  hasil  Pemilu  Presiden  dan
               Wakil  Presiden  secara  nasional  meliputi  perselisihan  penetapan
               perolehan  suara  yang  dapat  memengaruhi  penetapan  hasil  Pemilu
               Presiden dan Wakil Presiden.


           Dalam  hal  terjadi  perselisihan  penetapan  perolehan  suara  hasil  Pemilu
           anggota DPR, DPD, dan DPRD secara nasional, Peserta Pemilu anggota DPR,
           DPD,  dan  DPRD  dapat  mengajukan  permohonan  pembatalan  penetapan
           hasil  penghitungan  perolehan  suara  oleh  KPU  kepada  Mahkamah
           Konstitusi.  Peserta  Pemilu  anggota  DPR,  DPD,  dan  DPRD  mengajukan
           permohonan kepada Mahkamah Konstitusi paling lama 3 x 24 (tiga kali dua
           puluh  empat)  jam  sejak  diumumkan  penetapan  perolehan  suara  hasil
           Pemilu anggota DPR, DPD, dan DPRD secara nasional oleh KPU. Dalam hal
           pengajuan permohonan kurang lengkap, pemohon dapat memperbaiki dan


    330     BAB 7 – PENEGAKAN HUKUM DAN PENYELESAIAN SENGKETA PEMILU
   341   342   343   344   345   346   347   348   349   350   351