Page 771 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 771

Sementara,  tujuh  hal  yang  lainnya,  pihaknya  menolak  keras  dan  tidak  menyetujui  hasil
              kesepakatan tersebut. Pertama, UMK bersyarat dan UMSK dihapus.
              Menurutnya, UMK tidak perlu bersyarat dan UMSK harus tetap ada. Karena UMK tiap kabupaten
              atau kota berbeda nilainya.

              "Jadi tidak benar UMK di Indonesia lebih mahal dari negara ASEAN lainnya. Karena kalau diambil
              rata-rata nilai UMK secara nasional, justru UMK di Indonesia jauh lebih kecil dari upah minimum
              di Vietnam," katanya.

              Said  menilai,  tidak  adil  jika  sektor  otomotif  seperti  Toyota,  Astra,  dan  lain-lain  atau  sektor
              pertambangan  seperti  Freeport,  nikel  di  Morowali  dan  lain-lain,  nilai  UMK-nya  sama  dengan
              perusahan baju atau perusahaan kerupuk. "Karena itulah di seluruh dunia ada upah minimum
              sektoral yang berlaku sesuai kontribusi nilai tambah tiap-tiap industri terhadap PDB negara,"
              lanjutnya.

              Kedua, menolak pengurangan nilai pesangon dari 32 bulan upah menjadi 25 bulan. Di mana 19
              bulan  dibayar  pengusaha  dan  6  bulan  dibayar  BPJS  Ketenagakerjaan.  Ia  menyebut,  nilai
              pesangon berkurang walaupun dengan skema baru yaitu 19 bulan upah dibayar pengusaha dan
              6 bulan dibayar BPJS Ketenagakerjaan.

              "Bisa dipastikan BPJS Ketenagakerjaan akan bangkrut atau tidak akan berkelanjutan program
              Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) pesangon dengan mengikuti skema ini atau dengan kata
              lain dibuat aturan baru skema pesangon untuk tidak bisa dilaksanakan di lapangan," imbuhnya.

              Ketiga,  PKWT  atau  kontrak  seumur  hidup  atau  tidak  ada  batas  waktu  kontrak.  Keempat,
              outsourcing  pekerja seumur hidup tanpa batas jenis pekerjaan yang boleh  di-outsourcing.

              Padahal  sebelum,    outsourcing    dibatasi  hanya  untuk  lima  jenis  pekerjaan.  "Buruh  menolak
              outsourcing  seumur hidup," tegasnya.

              Karyawan kontrak dan  outsourcing  seumur hidup menjadi masalah serius bagi siapa yang akan
              membayar JKP untuk karyawan kontrak dan outsourcing. Menurut Said, tidak mungkin buruh
              membayar kompensasi untuk dirinya sendiri dengan membayar iuran JKP.

              Ia  menyayangkan,  keputusan  DPR  yang  menyetujui  status  karyawan  kontrak  dan  pekerja
              outsourcing  seumur hidup. Menurut Said, itu berarti  no job security  atau tidak ada kepastian
              kerja bagi buruh Indonesia.
              "Sekarang saja jumlah karyawan kontrak dan  outsourcing  berkisar 70 persen sampai 80 persen
              dari total buruh yang bekerja di sektor formal. Dengan disahkannya Omnibus Law, apakah mau
              dibikin 5 persen hingga 15 persen saja jumlah karyawan tetap?  No job security  untuk buruh
              Indonesia, apa ini tujuan investasi?" ucapnya.
              Kelima, waktu kerja dinilai tetap eksploitatif. Buruh menolak jam kerja yang eksploitatif. Keenam,
              hak cuti hilang dan hak upah atas cuti hilang.

              "Cuti haid dan melahirkan bagi pekerja perempuan hilang, karena hak upahnya atas cuti tersebut
              hilang. Cuti panjang dan hak cuti panjang juga hilang," tambahnya.

              Ketujuh, karena karyawan dikontrak atau  outsourcing  seumur hidup, maka jaminan pensiun
              dan kesehatan bagi mereka hilang. "Dari tujuh isu hasil kesepakatan tersebut, buruh menolak
              keras. Karena itulah, sebanyak 2 juta buruh sudah terkonfirmasi akan melakukan mogok nasional
              yang berlokasi di lingkungan perusahaan masing-masing," tuturnya.

              Editor : Estu Suryowati  Reporter : Romys Binekasri   .


                                                           770
   766   767   768   769   770   771   772   773   774   775   776