Page 801 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 801

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan RUU Cipta Kerja tetap mengatur hak-hak
              dan  perlindungan  upah  bagi  pekerja/buruh  sebagaimana  peraturan  perundang-undangan
              eksisting (UU 13/2003 dan PP 78/2015) dan selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah
              yang baru.

              "Terdapat  penegasan  variabel  dan  formula  dalam  penetapan  Upah  Minimum  berdasarkan
              pertumbuhan  ekonomi  dan  inflasi.  Selain  itu,  ketentuan  mengenai  Upah  Minimum
              Kabupaten/Kota  tetap  dipertahankan,"  kata  Ida  dalam  keterangannya,  di  Jakarta,  Selasa
              (6/10/2020).

              Jelasnya, dengan adanya kejelasan dalam konsep penetapan Upah Minimum dimaksud, maka
              RUU Cipta Kerja menghapus ketentuan mengenai penangguhan pembayaran Upah Minimum.

              Disamping  itu,  dalam  rangka  memperkuat  perlindungan  upah  bagi  pekerja/buruh  serta
              meningkatkan  pertumbuhan  sektor  Usaha  Mikro  dan  Kecil,  maka  RUU  Cipta  Kerja  mengatur
              ketentuan  pengupahan  bagi  sektor  Usaha  Mikro  dan  Kecil.  "RUU  Cipta  Kerja  semakin
              mempertegas pengaturan mengenai "upah proses" bagi pekerja/buruh selama PHK masih dalam
              proses penyelesaian perselisihan hubungan industrial sampai adanya putusan pengadilan yang
              berkekuatan  hukum  tetap  (incraht).  Hal  ini  sebagaimana  amanat  Putusan  MK  No.37/PUU-
              IX/2011," jelasnya.

              Selain  itu,  RUU  Cipta  Kerja  tetap  mengatur  syarat-syarat  dan  perlindungan  hak  bagi
              pekerja/buruh Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang menjadi dasar dalam penyusunan
              perjanjian  kerja.  Disamping  itu,  RUU  Cipta  Kerja  mengatur  perlindungan  tambahan  berupa
              kompensasi kepada pekerja/buruh pada saat berakhirnya PKWT.

              "Ketentuan  mengenai  waktu  kerja  dan  waktu  istirahat  tetap  diatur  seperti  UU  eksisting  (UU
              13/2003) dan menambah ketentuan baru mengenai pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat
              pada sektor usaha dan pekerjaan tertentu," ujarnya.

              Menurut Ida, hal itu untuk mengakomodir tuntutan perlindungan pekerja/buruh pada bentuk-
              bentuk hubungan kerja dan sektor tertentu yang di era ekonomi digital saat ini berkembang
              secara dinamis.

              Wakil  Ketua  Konfederasi  Persatuan  Buruh  Indonesia  (KPBI),  Jumisih,  mengutarakan  sikap
              kekecewanya kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang telah mengesahkan RUU Cipta Kerja
              menjadi Undang-Undang. Pengesahan tersebut, dianggal terlalu cepat dan sangat merugikan
              buruh di tengah kondisi terjadi sekarang ini. "Pasti kami sangat kecewa sekali, kita marah, ingin
              nangis, ini kekecewaan yang luar biasa buat buruh dan pekerja yang masih bekerja di pabrik,"
              kata dia saat dihubungi, Senin (5/10/2020).

              Dia menuturkan, dengan disahkannya UU Cipta Kerja semakin menunjukan keyakinan bahwa
              sebetulnya pemerintah dan DPR tidak berpihak kepada rakyat. Keduanya, justru berpihak kepada
              pihak-pihak  tertentu  seperti  korporasi  dan  pemilik  modal.  "Mereka  yang  punya  uang  punya
              kuasa, jadi sbgai negara yang punya cita-cita tetapi secara hukum tidak mendapatkan itu denga
              diberlakunya ominus law," kata dia.

              Menurutnya, sikap DPR hari ini betul-betul tidak mendengarkan aspriasi dari rakyat yang setiap
              menit melakaukan upaya untuk menggunakan ruang demokrasi untuk menyampaikan aspirasi.
              "Tetapi betul-betul mengecewakan," singkat dia.
              Dalam pandangannya, kehadiran UU Cipta Kerja akan sangat mengerikan. Sebab UU ini akan
              memberikan ruang yang sangat panjang untuk mengekspoitasi rakyar dan alam. "Jadi sebetulnya
              pemerintah sedang mewariskan kehancuran untuk generasi kita dan genrasi akan datang. Jadi
              pemeritnah mewariskan bukan kebaikan tapi kehancuran untuk rakyatnya sendiri, per har ini,"
              tandas dia.
                                                           800
   796   797   798   799   800   801   802   803   804   805   806