Page 803 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 803

Pemuka Agama se-Indonesia sepakat untuk secara tegas menolak Undang-undang          Omnibus
              Law  Cipta Kerja yang (  Ciptaker  ) baru saja disahkan dalam Rapat Paripurna DPR RI, Senin
              (5/10) kemarin.

              Sebagian  dari  mereka  bahkan  ada  yang  menjadi  inisiator  pembuatan  petisi  daring  yang  per
              Selasa (6/10) pukul 14.20 WIB sudah ditandatangani 827 ribu lebih orang.

              Ketua Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Mery Kolimon yang merupakan salah
              satu  inisiator  menyatakan  kesiapannya  dalam  mendorong  masyarakat  untuk  melakukan
              melakukan gugatan terhadap undang-undang kontroversial itu ke Mahkamah Konstitusi (MK).

              "Sangat penting bahwa kita menempuh proses-proses, kalau sekarang menjadi UU maka masih
              dimungkinkan kalau  secara  konstitusional  untuk    judicial  review   ,"  kata  Mery  dalam  diskusi
              daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Fraksi Rakyat ID, Selasa (6/10).

              Mery pun mengecam langkah yang dilakukan dewan legislatif ini. Sebab, menurutnya, beberapa
              poin  dalam  UU  Ciptaker  ini  berisiko  meresahkan  warga,  merugikan  lingkungan,  dan  juga
              melanggar HAM. Sehingga, sambungnya, wajar bilamana gelombang aksi penolakan menggeliat
              dari lintas sektor.

              "Kami mendorong masyarakat sipil menempuh proses Judicial Review UU Ciptaker demi hal yang
              sangat  mendasar  bagi  kehidupan  bangsa,  keadilan  sosial  dan  juga  bagi  kelestarian  hidup,"
              sambungnya.

              Mery juga mengaku heran sebab beberapa Rancangan Undang-Undang (RUU) yang diajukan
              seperti  RUU  Penghapusan  kekerasan  seksual  malah  tidak  segera  dibahas  DPR.  Padahal,
              menurutnya, urgensi RUU PKS dibutuhkan dari dulu hingga sekarang.

              Lebih lanjut, Mery menyebut UU Ciptaker ini sudah memangkas hak-hak buruh atau pekerja.
              Sebab, nantinya pekerja akan diupah semurah mungkin dengan penghitungan upah per jam dan
              dilegalkannya pembayaran upah di bawah standar minimum di sebagian sektor ketenagakerjaan.

              "Sebagai aktivis perempuan kami juga melihat RUU yang sekarang menjadi UU ini akan makin
              memperkuat kerentanan pekerja perempuan," kata Mery.

              Masih  dalam  diskusi  daring  yang  sama,  Cendekiawan  Islam  Ulil  Abshar  Abdalla  (Gus  Ulil)
              mengaku prihatin atas kejadian yang terjadi dalam beberapa tempo terakhir ini. Menurutnya,
              sudah  sepatutnya  wakil  rakyat  mendengarkan  suara  rakyat  dalam  memutuskan  sebuah
              kebijakan.

              Namun, alih-alih melakoni kewajiban itu, wakil rakyat malah memangkas ruang penghidupan
              kelompok  nelayan,  tani,  dan  masyarakat  adat  atas  nama  kepentingan  pembangunan  dan
              ekonomi.
              "Akhir-akhir ini dalam beberapa tahun terakhir, DPR semakin tidak bisa dengar suara rakyat
              sendiri, bagi saya ini merupakan penyelewengan kekuasaan," kata pria yang juga dikenal sebagai
              menantu Kiai NU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) tersebut.

              Ulil mengatakan di saat-saat seperti inilah, para pemuka agama harus hadir dalam memberikan
              koreksi dan peringatan kepada para pemimpin rakyat.

              Pemuka agama juga harus mengetahui seluk beluk permasalahan yang pada akhirnya merugikan
              umat.

              "Tugas  kaum  beragama  bukan  memberikan  legitimasi  kepada  orang-orang  yang  punya
              kekuasaan  besar,  baik  politik,  ekonomi,  dan  budaya.  Tugas  orang  beragama  adalah
              menyuarakan suara kenabian yaitu suara prosetif," kata dia.
                                                           802
   798   799   800   801   802   803   804   805   806   807   808