Page 421 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 OKTOBER 2020
P. 421

"Dalam rangka pengawasan terhadap Perusahaan Alih Daya, RUU Cipta Kerja juga mengatur
              syarat-syarat perizinan terhadap perusahaan Alih Daya yang terintegrasi dalam sistem Online
              Single Submission (OSS)," terangnya.

              Kemudian, terkait ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat tetap diatur seperti UU
              eksisting (UU 13/2003) dan menambah ketentuan baru mengenai pengaturan waktu kerja dan
              waktu istirahat pada sektor usaha dan pekerjaan tertentu.

              Hal  ini  untuk  mengakomodir  tuntutan  perlindungan  pekerja/buruh  pada  bentuk-bentuk
              hubungan kerja dan sektor tertentu yang di era ekonomi digital saat ini berkembang secara
              dinamis.

              Lalu,  ujar  Ida,  RUU  Cipta  Kerja  tetap  mengatur  hak-hak  dan  perlindungan  upah  bagi
              pekerja/buruh  sebagaimana  peraturan  perundang-undangan  eksisting  (UU  13/2003  dan  PP
              78/2015) dan selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah yang baru.

              Dalam poin UMK ia mengatakan, terdapat penegasan  "Dengan adanya kejelasan dalam konsep
              penetapan Upah Minimum dimaksud, maka RUU Cipta Kerja menghapus ketentuan mengenai
              penangguhan pembayaran Upah Minimum," jelas politis PKB ini.

              Ida pun menerangkan, dalam rangka memperkuat perlindungan upah bagi pekerja/buruh serta
              meningkatkan  pertumbuhan  sektor  Usaha  Mikro  dan  Kecil,  maka  RUU  Cipta  Kerja  mengatur
              ketentuan pengupahan bagi sektor Usaha Mikro dan Kecil.

              Sementara  dalam  rangka  perlindungan  kepada  pekerja/buruh  yang  menghadapi  proses
              pemutusan  hubungan  kerja  (PHK),  RUU  Cipta  Kerja  tetap  mengatur  ketentuan  mengenai
              persyaratan dan tata cara PHK.

              "RUU  Cipta  Kerja  tetap  memberikan  ruang  bagi  Serikat  Pekerja/Serikat  Buruh  dalam
              memperjuangkan kepentingan anggotanya yang sedang mengalami proses PHK," ungkap Ida.

              RUU Cipta Kerja semakin mempertegas pengaturan mengenai "upah proses" bagi pekerja/buruh
              selama PHK masih dalam proses penyelesaian perselisihan hubungan industrial sampai adanya
              putusan  pengadilan  yang  berkekuatan  hukum  tetap  (incraht).  Hal  ini  sebagaimana  amanat
              Putusan MK No.37/PUU-IX/2011.

              "Kemudian dalam rangka memberikan jaminan sosial bagi pekerja/buruh yang mengalami PHK,
              RUU Cipta Kerja mengatur ketentuan mengenai program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP)
              yang manfaatnya berupa uang tunai, akses informasi pasar kerja dan pelatihan kerja," tutup Ida.

              Sebelumnya, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) beserta 32 federasi serikat buruh
              lainnya akan melakukan aksi mogok nasional.

              Aksi  tersebut  dilangsungkan  pada  6-8  Oktober  2020  sebagai  bentuk  penolakan  terhadap
              pengesahan RUU Cipta Kerja.

              Mereka mengemukakan 7 poin tuntutan.

              Berikut tujuh isu tersebut seperti yang dikutip dari Kompas.com :

              1. Menolak penghapusan Upah Minimum Sektoral (UMSK) dan pemberlakuan Upah Minimum
              Kabupaten/Kota bersyarat.

              2. Menolak pengurangan nilai pesangon, dari 32 bulan upah menjadi 25 bulan. Pesangon senilai
              19 bulan upah dibayar pengusaha, sedangkan 6 bulan dibayar BPJS Ketenagakerjaan.




                                                           420
   416   417   418   419   420   421   422   423   424   425   426