Page 420 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 OKTOBER 2020
P. 420

Dia mengatakan Dewan Pengupahan Nasional telah merekomendasikan supaya UMP tahun 2021
              sama seperti tahun 2020. Menurutnya, saran ini akan menjadi masukan untuk penetapan upah
              minimum tahun depan.

              "Karena kalau kita paksakan mengikuti PP 78 atau mengikuti UU baru ini pasti akan banyak sekali
              perusahaan-perusahaan  yang  tidak  mampu  membayar  upah  minimum  provinsi,"  jelas  Ida,
              seperti dilansir dari Kontan dalam artikel "  Menaker: Dewan Pengupahan rekomendasikan UMP
              tahun 2021 sama seperti tahun 2020  ".

              Meski begitu, Ida pun memastikan pihaknya akan memberikan perkembangan terbaru dan tetap
              mendengarkan masukan dari Dewan Pengupahan Nasional.

              Bahas UMP 2021 Bareng Pengusaha dan Serikat Buruh  Menteri Ketenagakerjaan mengatakan,
              penetapan formula hitungan UMP 2021 diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP).

              "Terkait dengan upah minimum, tata cara penetapan upah minimum sudah kami melaporkan
              kepada Pak Presiden," ujarnya saat konferensi pers virtual, Rabu (7/10/2020).

              Pengaturan  pembahasan  akan  menyertakan  struktur  ketenagakerjaan  dalam  hal  ini  serikat
              pekerja, serikat buruh, dan pengusaha yang diwakili Apindo, serta Kadin dalam forum tripartit
              nasional.

              Jadi,  lanjut  Ida,  pemerintah  benar-benar  melakukan  pembahasan  Peraturan  Pemerintah  ini
              dengan menyertakan stakeholder di bidang ketenagakerjaan.
              Sementara itu, terkait dengan besaran UMP 2021 masih berdasarkan PP Nomor 78 Tahun 2015
              dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sebagai dasar penghitungan.

              "Memang di PP tersebut dalam kurun waktu 5 tahun akan ada peninjauan KHL dan jatuhnya
              adalah pada tahun 2021. Ada perubahan komponen KHL untuk tahun 2021 ini," pungkasnya.

              Menaker Menjawab Tuntutan Buruh yang Menolak  UU Cipta Kerja  Menteri Ketenagakerjaan Ida
              Fauziyah, menjawab tujuh isu krusial buruh yang ramai-ramai menolak  UU Cipta Kerja  .

              Dalam keterangan yang diterima Tribunnews.com, Selasa (6/10/2020), Ida memaparkan poin
              krusial seperti PWKT, PHK, pesangon, maupun hak cuti.

              "Terdapat prinsip-prinsip umum yang dipatuhi dalam penyusunan Klaster Ketenagakerjaan RUU
              Cipta  Kerja.  Penyusunan  ketentuan  klaster  ketenagakerjaan  memperhatikan  hasil  putusan
              Mahkamah Konstitusi atas uji materi UU 13/2003. Ketentuan mengenai sanksi ketenagakerjaan
              dikembalikan kepada UU 13/2003," ujar Ida.

              Ia  mengatakan,  RUU  Cipta  Kerja  tetap  mengatur  syarat-syarat  dan  perlindungan  hak  bagi
              pekerja/buruh PKWT yang menjadi dasar dalam penyusunan perjanjian kerja.

              "Disamping itu, RUU Cipta Kerja mengatur perlindungan tambahan berupa kompensasi kepada
              pekerja/buruh pada saat berakhirnya PKWT," kata dia.

              Selanjutnya, syarat-syarat dan perlindungan hak bagi pekerja/buruh dalam kegiatan Alih Daya
              (outsourcing) masih tetap dipertahankan.
              Bahkan  RUU  Cipta  Kerja  memasukkan  prinsip  pengalihan  perlindungan  hak-hak  bagi
              pekerja/buruh apabila terjadi pergantian Perusahaan Alih Daya. Hal ini sesuai dengan amanat
              putusan Mahkamah Konstitusi No. 27/PUU-IX/2011.





                                                           419
   415   416   417   418   419   420   421   422   423   424   425