Page 75 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 FEBRUARI 2021
P. 75

Indonesia (KSPSI) dan serikat buruh lainnya masih menolak  Undang Undang Cipta Kerja (UU
              Ciptaker)  dan aturan turunannya.
              Beberapa waktu lalu, pemerintah secara resmi menerbitkan 51 aturan turunan UU Ciptaker yang
              terdiri dari 47 Peraturan Pemerintah (PP) dan 4 Peraturan Presiden (Perpres). Secara khusus,
              Said menolak 4 PP turunan kluster ketenagakerjaan yang dinilai akan membuat buruh makin
              terperosok.

              Adapun 4 PP turunan yang ditolak buruh yakni PP No 34 tentang Tenaga Kerja Asing, PP No 35
              tentang PKWT, Alih Daya, Waktu Kerja hingga PHK, PP No 36 tentang Pengupahan, dan terakhir
              PP No 37 tentang Penyelenggaraan Jaminan Kehilangan Pekerjaan.

              "Seharusnya  pemerintah  tidak  menandatangani  atau  membuat  PP  turunan  terkait  kluster
              ketenagakerjaan. Pilihan buruh Indonesia sesuai apa yang disampaikan Presiden, mengajukan
              kepada  mekanisme  hukum  bila  tidak  setuju  keberadaan  UU  Cipta  Kerja,"  tegas  Presiden
              Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal dalam konferensi pers virtual di Jakarta,
              Kamis(25/2/2021).

              UU  Ciptaker,  atau  Omnibus  Law  ini  menurut  dia  berpotensi  menimbulkan  durasi  kerja  yang
              panjang dan menyulitkan buruh secara ekonomi.

              "Di PP 35 dan UU Cipta Kerja, kegiatan pokok dan penunjang boleh menggunakan outsourcing,
              ini perbudakan zaman modern. Sudah upahnya murah, kontraknya berulang-ulang dan disuruh
              lewat outsourcing, itu kan kerja rodi. Itu yang disebut perbudakan modern," cetus Said.

              Selain itu, kata dia, terdapat masalah lain juga yang sudah berulang kali disinggung, seperti
              perubahan  besaran  pesangon,  jam  kerja,  ketentuan  PKWT,  hingga  dihapusnya  aturan  Upah
              Minimum Kabupaten Kota (UMK). Aturan terakhir ini, menurut Said akan membuat kesejahteraan
              buruh makin terancam.

              "UMK di PP 36 ditegaskan mengikuti aturan UMP, kalau UMP yang berlaku itu memiskinkan buruh
              secara struktural dan kembali pada upah murah," pungkasnya. (fai).





































                                                           74
   70   71   72   73   74   75   76   77   78   79   80