Page 861 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 861

BERAGAM RESPONS SETELAH PEMERINTAH PUTUSKAN TAK ADA KENAIKAN UMP
              2021
              Pemerintah secara resmi menyatakan tak ada kenaikan upah minimum pada 2021, baik upah
              minium  provinsi  (UMP)  maupun  upah  minimum  kabupaten/kota  (UMK).  Hal  itu  disampaikan
              langsung  oleh  Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah  melalui  Surat  Edaran  Nomor
              M/11/HK.04/X/2020 tentang Penetapan Upah Minimum Baru Tahun 2021 di Masa Pandemi Covi-
              19.

              "Dalam rangka memberikan perlindungan dan kelangsungan bekerja bagi pekerja/buruh serta
              menjaga kelangsungan usaha, perlu dilakukan penyesuaian terhadap penetapan upah minimum
              pada situasi pemulihan ekonomi di masa pandemi covid-19," kata Ida dalam surat edarannya.

              Seperti diberitakan Kompas.com, Rabu (28/10/2020), menurut Menteri Ida, sebanyak 18 provinsi
              sudah sepakat tidak menaikkan UMP 2021 . Keputusan pemerintah tidak menaikkan UMP ini
              mengundang  berbagai  respons.  Seperti  apa  respons  yang  muncul?  Komite  Tetap
              Ketenagakerjaan  (Kadin)  Bob  Azam  menilai,  keputusan  untuk  tidak  menaikkan  upah  2021
              merupakan langkah tepat.

              Sebab, kondisi ekonomi Indonesia saat sedang mengalami tekanan akibat virus corona hingga
              menyebabkan resesi.
              "Jadi wajarlah, apalagi ditambah perusahaan-perusahaan yang sedang kesulitan," ujar Bob.

              Menurut  dia,  langkah  itu  lebih  baik  dilakukan  demi  memastikan  agar  perusahaan  tetap  bisa
              menggaji karyawannya.

              Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea menolak
              keputusan pemerintah itu.
              Ia mengklaim, tak adanya kenaikan upah 2021 akan membuat daya beli masyarakat semakin
              menurun di tengah kesulitan ekonomi.

              "Ini sangat memberatkan buruh dalam kondisi kesulitan ekonomi dan daya beli masyarakat yang
              lagi turun, tentu sangat berat," jelas Andi.

              Oleh karena itu, ia meminta agar pemerintah meninjau ulang keputusan itu dan mengajak serikat
              buruh duduk bersama sebelum mengambil keputusan. Sementara itu, Gubernur Banten Wahidin
              Halim meminta agar buruh menerima keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan upah.

              Menurut dia, pandemi virus corona membuat pengusaha mengalami kesulitan sejak Maret 2020.

              "Jangan naik setiap tahun, karena perintah, keputusan Menterinya itu harus sama kayak tahun
              lalu. Kalau setiap tahun naik, kesulitan pengusahanya, kondisinya lagi begini (pandemi)," ujar
              Wahidin.

              Apalagi, pemerintah teleh menggelontorkan dana besar untuk memberikan bantuan kepada para
              pekerja dengan program Kartu Prakerja. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Putra Patria
              mengatakan,  Pemprov  DKI  Jakarta  akan  mengikuti  kebijakan  Pemerintah  Pusat  terkait  upah
              2021.

              "Kami hormati keputusan yang diambil, sementara keputusannya seperti tahun lalu. Itu yang
              kami hormati, kami hargai, kami laksanakan," ujar Riza.

              Meski demikian, pihaknya tetap membuka diskusi dan masukan dari para buruh soal keputusan
              upah  tersebut.  Sumber:  Kompas.com  (Ryana  Aryadita  Umasugi/Rasyid  Ridho/Akhdi  Martin
              Pratama | Editor: Egidius Patnistik/Abba Gabrillin/Bambang P Jatmiko/Yoga Sukmana) .
                                                           860
   856   857   858   859   860   861   862   863   864   865   866