Page 33 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 33

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                       1754:          Gubernur Jendral J. Mossel memerintahkan para residen di
                                      Jawa agar meminta bantuan kepada para penghulu dan ulama
                                      (Mohammedaansche  priesters)  untuk  melakukan  kompilasi
                                      hukum pribumi, yang nantinya dapat dijadikan kompendium
                                      yang dapat dipakai sebagai hukum positif, pegangan bagi
                                      lembaga peradilan pribumi.


                       1755:          Ditemukan cap raja Banten pada sebuah piagam yang menyebut
                                      sultan “al-Qadiri” yang menunjukkan afiliasi al-Jilani dengan
                                      tarekat Qadiriyah.


                       1760:          Di Jawa, terbit sebuah kompendium yang biasanya disebut
                                      sebagai Kompendium Freijer, nama yang diambil dari pemimpin
                                      proyek kompilasi, dan dinamainya Compendium der voornaamste
                                      Mohammedannsche wetten en gewoonten nopens erfenissen,
                                      huwelijken en echtscheidingen


                       1781-82:       Abu ’Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Mukhtar al-Tijani,
                                      Setelah diinisiasi ke dalam beberapa tarekat, seperti Qadiriyah
                                      dan Khalwatiyah, memproklamasikan berdirinya Tarekat
                                      Tijaniyah, yang menurutnya atas “perintah” Rasulullah Saw.

                       1811-1816:     Pemerintahan Thomas Stamford Raffles mengambil alih
                                      kekuasaan atas tanah Jawa dari Belanda-Perancis

                       1815,  22  September: Abu ’Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Mukhtar al-
                                      Tijani, pendiri Tarekat Tijaniyah, meninggal dunia dalam usia 80
                                      tahun dan dimakamkan di Fez.


                       1819:          Terjadi perlawanan rakyat Palembang terhadap tentara Belanda
                                      yang dikirim untuk menaklukkan kota itu. Perang tersebut
                                      dinamakan Perang Menteng, diambil dari nama komandan
                                      pasukan Belanda Muntinghe. Kaum mujahidin mempersiapkan
                                      diri mereka untuk berjihad di jalan Allah dengan membaca asma
                                      Allah, berdzikir dan beratib dengan suara keras hingga mencapai
                                      fana. Dalam keadaan fana, mereka menyerang pasukan Belanda;
                                      Dan, dengan semangat dan keberanian yang tinggi, mujahidin
                                      Palembang tersebut berhasil mengalahkan serangan pertama
                                      pasukan Belanda.

                       1821- 1837:  Perang Paderi di Sumatera Barat yang dipimpin oleh Tuanku
                                      Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dan Tuanku nan Cerdik









                                                                                                 17
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38