Page 38 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 38
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
1901: Jam’iyyat al-Khayr didirikan dengan tujuan mengajarkan
bahasa dan budaya Arab, terutama kepada warga Arab
yang ada di Indonesia, dan mengirimkan anak-anak mereka
untuk menempuh pendidikan di Timur Tengah. Organisasi ini
cenderung mempertahankan pandangan tentang superioritas
sayyid (keturunan Nabi) dibandingkan dengan umat Islam yang
lain.
1901, 17 September: Pemerintah Hindia Belanda, melalui Ratu Wilhelmina,
mencanangkan politik etis kepada masyarakat Hindia Belanda
sebagai bentuk balas budi yang mencakup 3 aspek: Irigasi/
pengairan ( membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan
dan bendungan untuk keperluan pertanian), emigrasi (mengajak
penduduk untuk transmigrasi) dan edukasi (memperluas aspek
pengajaran dan pendidikan bagi masyarakat).
1903: Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Undang-undang
Desentralisasi yang memberikan hak kepada penduduk lokal
di Indonesia untuk membentuk suatu Dewan Perwakilan, di
Indonesia mulai tumbuh berbagai organisasi dan partai politik.
1903, Mei 27: Terjadi pemberontakan Kiai Kasan Mukmin dari Sidoharjo.
Gerakan ini merupakan bentuk perlawanan terhadap pemerintah
kolonial Belanda. Melalui khutbah-khutbah, Kiai Kasan Mukmin
menyerukan rakyat untuk melakukan perang jihad terhadap
pihak kolonial Belanda yang telah melakukan beragam aksi
pemerasan. Dalam pertempuran ini pimpinan gerakan dan
pengikutnya terbunuh dan yang lainnya ditangkap pihak
Belanda.
1905: Pengawasan terhadap pendidikan Islam di Indonesia dilakukan
oleh pemerintahan kolonial Belanda dengan diterbitkannya
Peraturan tentang Pendidikan Islam, yang berisi aturan rinci dan
ketat soal perijinan dan guru agama.
1906: Majalah Al-Imam mulai terbit di Singapura di bawah asuhan Tahir
Jalaluddin Al-Azhari. Majalah ini dalam sejarahnya mempunyai
keterkaitan yang erat dengan Al-Urwatul Wusqa, majalah yang
diterbitkan oleh Jamal al-Din Afghani dan Muhammad Abduh di
Paris, Prancis. Majalah ini tersebar luas di Semenanjung Malaya
dan Pulau Sumatera. Salah satu daerah yang mendapat pengaruh
paling kuat dari penerbitan Al-Imam adalah Minangkabau.
Penerbitan majalah Al-Imam berhenti pada tahun 1909.
22

