Page 43 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 43

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                       1915, 11 Agustus: Al-Irsyad didirikan diantaranya sebagai kritik terhadap model
                                      keberagamaan Jamiat Kheir. Pendiri dari ormasi ini diantaranya
                                      adalah Sjech Umar Manggus, Saleh bin Ubeid Abdad, Said bin
                                      Salim Masjhabi, Salim bin Umar Balfas, Abdullah Harharah, dan
                                      Umar bin Saleh bin Nahdi. Misi dari organisasi ini salah satunya
                                      adalah menghilangkan adanya stratifikasi atau pengkelasan sosial
                                      berdasarkan pada  keturunan. Al-Irsyad  menolak  pengkultusan
                                      dan penempatan sayyid di atas non-sayyid.

                       1915:          Syaikh Ahmad Khatib al-Minankabawy wafat. Beliau dilahirkan di
                                      Bukittinggi tahun 1860 dan merupakan keturunan dari seorang
                                      hakim gerakan Padri yang sangat anti penjajahan Belanda.


                       1915:          Hayah al-Qulub dilarang dan dibubarkan oleh Belanda. Hayatuh
                                      al-Qulub adalah organisasi yang didirikan Halim untuk fokus
                                      pada ekonomi dan pendidikan. Iuran dari anggotanya, pedagang
                                      dan petani, sekitar 5 sen setiap minggu diperuntukkan untuk
                                      membantu usaha penenunan sebagai respon terhadap bisnis
                                      Cina. Pergerakan ini hanya terbatas di Jawa Barat, Tegal dan
                                      Sumatra Selatan.

                       1915:          Di Aceh Darussalam, Tuanku Raja Keumala meminta izin Gubernur
                                      Swaart untuk mendirikan madrasah di lingkungan dayah asuhannya.
                                      Madrasah yang dimaksud oleh Tuanku Raja Keumala tiada lain adalah
                                      sistem madrasah yang dilihatnya di Timur Tengah. Permohonannya
                                      dikabulkan oleh Swaart, bahkan ditawari bantuan finansial untuk
                                      pengelolaan madrasah tersebut. Namun tawaran itu ditolaknya.
                                      Sebaliknya justru ia minta izin kepada gubernur untuk mengedarkan
                                      permohonan derma kepada masyarakat Aceh, yang kemudian
                                      disetujui oleh gubernur.


                       1916:          Majalah terbitan SI, seperti  Al-Islam,  Simpaj, serta  Sarotomo
                                      berproduksi

                       1916, Maret: Pengurus Central Sarekat Islam (CSI) disahkan oleh pemerintah
                                      Hindia Belanda. Berkedudukan di Surabaya, CSI memiliki tujuan
                                      yaitu memajukan, membantu, dan memelihara kerja sama
                                      antara SI lokal. Pengurus CSI terdiri atas H. Samanhudi sebagai
                                      ketua kehormatan, Tjokroaminoto sebagai ketua, dan Gunawan
                                      sebagi wakil ketua. Semua SI lokal merupakan anggota CSI.

                       1916:          Sistem madrasah mulai diperkenalkan di pesantren Tebuireng oleh
                                      menantu pertama KH Hasyim Asy’ary (Hadratus-Syekh), Kiai Ma’sum,








                                                                                                 27
   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48