Page 48 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 48

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                       1925:          Menurut laporan pemerintah Cianjur, di wilayah itu telah ada
                                      36 kiai yang memperoleh piagam. Para kiai seperti inilah yang
                                      kemudian disebut oleh sebagian masyarakat Priangan sebagai
                                      kiai besluit. Kadangkala para santri yang demikian sinis terhadap
                                      kiai besluit, tidak menyadari bahwa kiai yang menjadi panutannya
                                      pun dapat lancar mengajar karena men dapat sumbangan dan
                                      restu dari pemerintah berupa surat besluit.


                       1925, 1 Januari :  Jong  Islamieten  Bond  (JIB)  dibentuk.  Tujuan  pertama
                                      pembentukannya adalah untuk mengadakan kursus-kursus
                                      agama Islam bagi para pelajar Islam dan untuk mengikat rasa
                                      persaudaraan antara para pemuda terpelajar Islam yang berasal
                                      dari berbagai daerah di Nusantara. Ide pembentukan JIB
                                      didukung oleh sekitar 200 pemuda dan pelajar saat itu dan juga
                                      didukung oleh tokoh perjuangan Haji Agus salim yang kemudian
                                      menjadi penasehat JIB. Pada perkembangannya, JIB kemudian
                                      banyak melahirkan tokoh-tokoh di masa depan yang kemudian
                                      aktif menyokong Masyumi di pentas nasional.


                       1925,  Maret: Majalah  Het Licht terbit, banyak menurunkan artikel tentang
                                      kebangsaan seperti artikel ”Islam dan Semangat Kebangsaan”,
                                      ”Nasionalisme”.

                       1926, 31 Januari: NU didirikan di Surabaya oleh beberapa ulama seperti KH
                                      Bisri Sansuri (Denanar, Jombang), KH Abdul Wahab Hasbullah
                                      (Tambakberas,  Jombang),  dan  KH  Hasyim  Asy’ari  (Tebuireng,
                                      Jombang). Secara keanggotaan dan simpatisan, NU merupakan
                                      ormas terbesar di Indonesia dengan jumlah anggota mencapai
                                      40 juta orang. Namun demikian, hampir seluruh anggotanya
                                      terpusat di Jawa, terutama Jawa Timur. organisasi Nahdlatul
                                      Ulama (NU) berdiri sebagai kebangkitan kaum ulama, umumnya
                                      yang  berbasis  di pesantren,  dengan  sejumlah  agenda untuk
                                      mempertahankan dan merevitalisasi lembaga dan tradisi Islam
                                      yang sudah lama berakar dalam sejarah Indonesia. Signifikansi
                                      NU dalam hal ini terlihat khususnya dalam konteks pesantren
                                      dan madrasah, dan juga tarekat.


                       1926:          Koran Al-Chair diterbitkan di Surakarta

                       1926:          Terlaksanya Kongres Pemuda I. Kongres ini menghasilkan
                                      kesepakatan bersama mengenai kegiatan pemuda pada segi
                                      sosial, ekonomi, dan budaya. Kongres ini diikuti oleh seluruh
                                      organisasi pemuda saat itu seperti Jong Java, Jong Sumatera,
                                      Jong Betawi, dan beberapa organisasi lainnya.






                     32
   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52   53