Page 45 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 45
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
1920: Kiai Haji Ajengan Raden Muhammad Zakaria bersama-sama
beberapa kiai Garut mendirikan organisasi kiai reformis dengan
nama Majlis Ahli Sunah Cilame. Nama Kiai Muhammad Zakaria
bersama grupnya itu tercatat laporan Adeviseur voor Inlandse
Zaken sebagai kiai-kiai nasionalis yang ikut menyebarkan paham
nasionalis Indonesia di wilayah Garut. Karena jasa para kiai
inilah, PNI pimpinan Ir. Soekarno dapat membuka cabangnya di
Garut, yang sebelumnya dikenal sebagai rumah kedua Sarekat
Islam. Namun, pesantren yang telah membesarkan nama Kiai
Muhammad Zakaria itu sekarang sudah tiada lagi jejaknya.
1920: Tarekat Tijaniyah masuk pertama kalinya ke Indonesia, disebarkan
di Tasikmalaya, Jawa Barat, oleh seorang ulama Arab dari
Madinah, ‘Ali ibn ‘Abd Allah al-Thayyib al-Azhari, pengarang
buku yang berjudul Kitab al-Munyah fi al-Tarîqah al-Tijâniyyah.
Setelah itu, tarekat ini segera menyebar ke daerah-daerah lain di
Indonesia, terutama di Cirebon, Garut, Cianjur, Ciamis, Brebes,
Tegal, Pekalongan, Madura, dan ujung timur Jawa Timur.
1920: Ahmadiyah Lahore pertama kali datang ke Indonesia melalui
misionarisnya Khwaja Kamaluddin. Namun dalam kedatangannya
ke Surabaya dan Batavia, Kamaluddin tidak memperkenalkan
Ahmadiyah samasekali. Dia memperkenalkan pemikiran Islam
modern yang berasal dari India.
1921: Muhammadiyah keluar dari SI. Keluarnya Muhammadiyah dari SI
semakin melemahkan posisi SI.
1921: Tjokroaminoto dipenjarakan pihak Belanda karena terlibat pada
pemberontakan di daerah-daerah Sumbawa, Kalimantan, Jambi,
Demak, Toli Toli, dan Cimareme (SI Afdeling B).
1921: Pada Kongres di Surabaya mendukung untuk mengeluarkan
orang-orang Komunis dari SI. Pihak kepemimpinan yang menolak
pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) di tubuh SI melakukan
usaha-usaha untuk menghilangkan pengaruh komunis itu.
1922: Kiai Ishaq pemimpin pesantren Al-Ittifakiyah (Ogan Ilir, Sumsel) mulai
memperkenalkan pendidikan dengan sistem klasikal.
29

