Page 42 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 42
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
1913: Jamiat Kheir kembali mendatangkan guru-guru dari Timur-
Tengah diantaranya Muhammad Noor Al-Ansari, Muhammad
Abul Fadl Al-Ansari, dan Hasan Hamid Al-Ansari. Kebanyakan
dari guru-guru tersebut telah berkenalan dengan pemikiran
pembaharuan dari Mesir
1913, Januari: Diadakan kongres SI pertama di Surabaya yang dihadiri oleh
utusan-utusan dari berbagai daerah di Jawa dan di luar Jawa
yang meliputi tiga wilayah organisasi yaitu wilayah Jawa Timur
(Sulawesi, Bali, Lombok, Sumbawa dan pulau-pulau di bagian
Indonesia Timur), Jawa Tengah (meliputi Kalimantan) dan Jawa
Barat (meliputi Jawa Barat dan Sumatera). Kongres ini sekaligus
Perubahan SI di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto yang
bersifat nasional
1913, Januari : Terbit majalah Hindia Serikat di Bandung, Jawa Barat. Majalah
ini terbit dibawah koordinasi Sarekat Islam, sebuah organisasi
yang didirikan pada 1911 dalam spirit munculnya para pedagang
Muslim di Solo yang telah memiliki organisasi Sarekat Dagang
Islam (SDI). Sebagai penanggung jawab redaksi adalah Abdoel
Moeis, Soewardi Soejaningrat, dan Lembana Wignjadisastra.
1913: Harian Oetusan Hindia, Pantjaran Warta, Sinar Djawa mulai
berproduksi.
1913: Terbit Neratja yang sengaja ditujukan sebagai suara gerakan
politik SI. Harian ini juga dimaksudkan untuk menyediakan
berita-berita dan opini-opini yang berpusat pada aspirasi politik
SI. Neratja berhenti terbit pada tahun 1924.
1914, 18 Februari: SI mengadakan pertemuan khusus di Yogyakarta untuk
membentuk sebuah kepengurusan pusat dengan menunjuk
H. Samanhoedi sebagai ketua kehormatan dan Tjokroaminoto
sebagai ketua dan Gunawan sebagai wakil ketua. Tjokroaminoto
secara resmi menjalankan kepengurusan harian organisasi guna
merealisasikan cita-citanya.
1914: Muhammadiyah melakukan penyebaran ajaran kepada anggota.
1914: Jumlah Syekh resmi terdaftar di Konsulat sebanyak 186 orang.
Masing-masing Syekh saat itu hanya mendapat tamu 50
orang. Selama 3-6 bulan, rata-rata Syekh hanya memperoleh
pendapatan f.60.00,-. Tetapi karena biaya yang kian tinggi,
syekh merugi sebab tidak sesuainya antara pemasukan dengan
pengeluaran dari jamaah yang menjadi tanggungannya.
26

