Page 40 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 40
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
1908: Budi Utomo berdiri yang eksklusif bagi masing-masing warga
keturunan Arab dan priyayi Jawa.
1908, Juli: Al-Imam menerbitkan artikel penting versi terjemahan karya
seorang ulama Mesir, Syekh Muhammad bin Ibrāhim al-Ahmadā,
berjudul “Ilmu dan Ulama.”
1908: Abdullah Ahmad berkunjung ke Singapura untuk mempelajari
keterampilan teknis dan manajemen penerbitan majalah.
1909-1916: Masa pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg, dimasa ini
Kristenisasi terjadi di banyak tempat, dan difasilitasi pemerintah
kolonial secara finansial maupun politik sebagaimana terlihat
pada pemberian subsidi besar-besaran terhadap pembangunan
rumah sakit zending (misionaris) dan pembukaan wilayah bagi
zending di Solo semasa pemerintahan
1910: Beberapa pemimpin surau di Minangkabau mulai menerapkan sistem
kelas dalam lembaga pendidikan yang dikelolanya. Syaikh Abbas
dari Alang Lawas, Bukittinggi mendirikan madrasah Arabiyah yang
nota bene kurang mendapat sambutan dari kalangan masyarakat
setempat dan juga kawan-kawannya.
1911?: Ahmad Surkati, pendiri Jam’iyyat al-Irshad, seorang ulama dari
Sudan yang juga merupakan sayyid, datang ke Indonesia dari
Jam’iyyat Khayr. Salah satu tindakan terkenal dari Surkati dalam
kaitannya dengan persoalan sayyid-non-sayyid adalah ketika ia
menyatakan bahwa perkawinan seorang habib dengan orang
Islam biasa itu adalah sah. Pernyataan ini mendapat banyak
penentangan dari berbagai komunitas Arab di Indonesia.
1911: Sentiment persaingan melawan pedagang Cina di Pasundan
(Majalengka) dilakukan dengan memadukan pendidikan dan
ekonomi.
1911: Berdiri Sarekat Dagang Islam oleh Haji Samanhoedhi sebagai
respon terhadap ekspansi dan dominasi perdagangan batik Cina.
1911, 11 Oktober: Terjadi revolusi China. Gerakan yang juga dikenal sebagai
Revolusi Xinhai ini merupakan peristiwa bersejarah yang sangat
penting bagi China. Melalui revolusi tersebut masyarakat
China yang mayoritas dari suku Han berhasil mengakhiri 200
tahun pemerintahan Kekaisaran Dinasti Qing (1644-1912)
yang didominasi minoritas etnik Manchu. Melalui revolusi ini
dihasilkan pula suatu pemerintahan baru dan pertama di Asia
yang berbentuk republik.
24

