Page 37 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 37

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                       1888-1926:   Pemerintah Hindia Belanda memberi perhatian cukup besar
                                      terhadap perkembangan tarekat. Aktivitas tarekat diawasi,
                                      diperketat, dan para pengikutnya dicurigai sebagai orang fanatik
                                      yang  menjadi  ancaman bagi  pemerintah  kolonial.  Sejak  lama,
                                      di kalangan masyarakat Belanda di Indonesia telah tumbuh rasa
                                      ketakutan terhadap tarekat, karena mereka yakin bahwa gerakan
                                      tarekat bisa digunakan oleh pemimpin-pemimpin fanatik sebagai
                                      basis kekuatan untuk memberontak.

                       1889:          Snouck Hurgronje datang ke Indonesia. Pada tahun yang sama,
                                      Snouck Hurgronje juga ditunjuk sebagai penasehat pada Kantor
                                      Urusan  Orang  Pribumi  dan  Arab  (Kantoor voor Inlandsche
                                      Zaken). Kantor tersebut kemudian menjelma menjadi Shumubu di
                                      jaman Jepang, dan juga menjadi cikal-bakal Departemen
                                      Agama Indonesia. Atas  perannya, pemerintah  Hindia-Belanda
                                      menemukan pola dasar bagi kebijaksanaan untuk menghadapi
                                      Islam di wilayah Hindia-Belanda.

                       1891:          Terjadi Gerakan Anti-Bali di Lombok. Gerakan yang merupakan
                                      bentuk perlawanan orang Sasak di Lombok terhadap kerajaan
                                      Bali ini dipimpin oleh Guru Bangkol, seorang  guru tarekat
                                      (Qadiriyah wan Naqsabandiyah).

                       1894:          Vreekoloos, seorang Belanda, pemilik sebuah kapal yang berlayar
                                      ke Mekah menghadap raja dan menyatakan diri masuk Islam.
                                      Beberapa waktu kemudian, ia meminta izin agar jamaah yang
                                      hendak kembali ke Nusantara boleh menumpang di kapalnya,
                                      dengan ongkos antara f.31-37. Sebagian dari ongkos yang
                                      dikumpulkan itu diberikan kepada raja. Syekh mendapat tugas
                                      dari raja agar sunguh-sungguh mencari penumpang. Setelah
                                      dapat, penumpang itu dilarang pindah ke kapal lain. Jika Syekh
                                      tidak berhasil memperoleh calon penumpang, ia akan mendapat
                                      ancaman kehilangan pekerjaannya


                       1895:          Gerakan ekonomi di Purwokerto dengan pendirian koperasi
                                      untuk tujuan kredit dan produksi sebagai dukungan perusahaan
                                      dan penyaluran barang.


                       1896:          Karya Arnold The Preaching of Islam, A History of Propagation of
                                      the Muslim Faith, terbit pertama kali

                       1897:          Syaikh Nawawi al-Bantani wafat. Nawawi Banten adalah
                                      pengarang paling produktif. Di samping menulis kitab tafsir,
                                      dia juga menulis berbagai kitab dalam disiplin ilmu Islam yang
                                      dipelajari di pesantren




                                                                                                 21
   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42