Page 34 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 34

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                       1825–1830:  Terjadi pemberontakan dan perlawanan terhadap kolonial yang
                                      dipimpin oleh Pangeran Diponegoro (Perang Jawa). Selama lima
                                      tahun, perang ini telah menyulut perlawanan rakyat hampir di
                                      tanah Jawa;

                       1825:          Pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan berbagai kebijakan
                                      untuk menekan semangat umat Islam menunaikan ibadah haji
                                      ke Mekah lewat berbagai regulasi dan larangan seperti Resolusi
                                      1825, di mana di dalamnya tertulis larangan pergi haji  yang
                                      tidak mempunyai pas jalan, kecuali harus memberikan persekot
                                      110 gulden.

                       1831:          Peraturan  pemerintah  colonial  Belanda  yang  didasarkan  atas
                                      rekomendasi Komisi Perbaikan Priesterrad dikeluarkan

                       1845:          Ulama asal Minangkabau, sang sufi pengembara, Syaikh Ismail
                                      al-Minangkabawi  berangkat  ke  Riau  dan  disambut  hangat
                                      oleh penguasa setempat, Sultan Muhammad Yusuf dan Raja
                                      Ali  Engku  Kelana  (Yamtuan  Muda  Riau  VIII),  dan  keduanya
                                      kemudian menjadi pengikutnya. Dari Riau dia kemudian pergi ke
                                      Kerajaan Langkat dan Deli, dan melanjutkan pengembaraannya
                                      ke Johor. Di sini, tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah diterima
                                      secara massif.

                       1855:          Syaikh Ahmad Khatib lahir di Bukittinggi.


                       1857 – 1862:  Terjadi Perang Banjarmasin. Perang ini bermula ketika Pangeran
                                      Nata menandatangani perjanjian yang menyatakan bahwa
                                      Kerajaan Banjar adalah milik VOC. Dinyatakan pula bahwa
                                      VOC berhak campur tangan dalam pengangkatan sultan dan
                                      pejabat kerajaan. Ketidaksetujuan rakyat atas perjanjian tersebut
                                      diwujudkan melalui aksi perlawanan terhadap Belanda yang
                                      dipimpin oleh Pangeran Antasari.

                       1858:          Bupati Brebes mengeluarkan sepucuk surat pengantar tertanggal
                                      2 September 1858, Nomor 216, yang berisi permohonan
                                      mendapatkan pas untuk kawulanya yang ingin berhaji.


                       1858:          Bupati Tegal, Rangga Pati, dalam suratnya tertanggal 11 Agustus
                                      1858 kepada Residen Tegal, menyampaikan permohonan agar
                                      mendapatkan pas untuk kawulanya yang ingin berhaji











                     18
   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39