Page 182 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 182
dipisahkan antara pulau yang satu dengan lainnya, atau antara pulau dengan
perairannya.
Bahwa penetapan batas perairan wilayah sebagaimana menurut Territoriale
Zee en Maritime Kringen Ordonantie 1939yang dimuat dalam Staatsblad
1939 No. 442 Pasal 1 (1) sudah tidak sesuai lagi dengan kepentingan
Indonesia setelah merdeka.
Bahwa Indonesia setelah berdaulat sebagai suatu negara yang merdeka,
mempunyai hak sepenuhnya dan berkewajiban untuk mengatur segala
sesuatunya, demi untuk keamanan dan keselamatan negara serta bangsanya.
Deklarasi Djuanda 1957 tersebut merupakan titik pangkal lahirnya klaim
Wawasan Nusantara, yang merupakan konsepsi wilayah kewilayahan (laut)
pada 1966. Pemerintah RI bukanlah satu-satunya negara yang melakukan klaim
atas wilayah pantainya sebab sebelumnya, Presiden AS S. Truman pada 25
Desember 1945 mengumumkan dua pernyataan, yaitu:proklamasi tentang landas
kontinen dan proklamasi tentang perikanan. Hal tersebut membuat pernyataan
sepihak atas klaim wilayah laut memang dianggap sudah lazim dalam politik
internasional. Hanya saja yang lebih penting adalah pengakuan internasional atas
klaim sepihak suatu negara.
Istilah Wawasan Nusantara sebenarnya baru dikenal pada seminar
pertahanan keamanan tahun 1966. Pada waktu itu Wawasan Nusantara
dipergunakan untuk mengembangkan kekuatan pertahanan dan keamanan yang
terpadu, untuk menggantikan tiga wawasan yang pernah ada yang sifatnya
sektoral, yatiu:Wawasan Benua (yang diprakarsai oleh TNI AD), Wawasan Bahari
3

