Page 185 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 185

Dalam usaha mewujudkan konsep Wawasan Nusantara ini, pemerintah RI


                        telah  dua  kali  berhasil  mengklaim  konsep  Wawasan  Nusantara  itu  di  forum

                        internasional,  yaitu dalam konferensi hukum laut internasional pada tahun  1958


                        dan tahun 1960; tetapi belum mendapatkan hasil sebagaimana diharapkan namun

                        Deklarasi Djuanda 1957 telah dilegitimasi ke dalam bentuk undang-undang (UU


                        no. 17/1985) yang mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dalam hal ini, ada dua

                        macam  jalur  yang  ditempuh  pemerintah  RI  dalam  memperjuangkan  konsep


                        Wawasan Nusantara. Kedua macam jalur tersebut adalah:

                        a.  Jalur  internasional;  yaitu  seperti  yang  sudah  dilakukan,  dengan  jalan


                            memperjuangkan  dalam  pembicaraan-pembicaraan  diforum  internasional,

                            konferensi hukum laut,danforum-forum internasional lainnya.

                        b.  Jalur bilateral dan trilateral; yaitu dengan langsung mengadakan perundingan


                            secara  bilateral  dan  trilateral  dengan  negara-negara  tetangga  yang

                            berkepentingan.


                            Diantara dua macam jalur cara memperjuangkan klaim Wawasan Nusantara

                        tersebut, ternyata dalam jangka waktu pendek jalur bilateral lebih terlihat hasilnya


                        (meskipun  terbatas  hanya  negara-negara  yang  berkepentingan  saja).  Hal  ini

                        terbukti dengan adanya perundingan-perundingan antar negara yang menghasilkan


                        perjanjian  (treaty)  atau  persetujuan  (agreement)  mengenai  perbatasan  laut

                        wilayahnya  dengan  wilayah  RI.  Perjanjian  dan  persetujuan  yang  dimaksudkan


                        antara lain, termuat dalam:

                        1.  UU No. 22 tahun 1971 (LN. 1971 No. 16) tentang perjanjian antara RI dan

                            Malaysia tentang penetapan garis batas laut kedua negara di Selat Malaka






                                                               6
   180   181   182   183   184   185   186   187   188   189   190