Page 228 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 228
maritim. Perubahan sikap mental ini harus diprogramkan melalui pendidikan
formal dan informal.
Jika belajar dari sejarah, terutama tentang keruntuhan kerajaan Sriwijaya,
Majapahit, dan sejmlah kerajaan lain di bumi nusantara maka salah satu
penyebabnya adalah tidak adanya proses regenerasi pemimpin negara yang baik.
Untuk menghindari kesalahan yang sama di masa lalu, Indonesia perlu untuk
memiliki program pengembangan kepemimpinan dan proses regenerasi
kepemimpinan secara berkesinambungan. Para calon pemimpin bangsa kita tidak
saja harus memahami pengetahuan pada tataran strategis, namun juga memiliki
sikap mental yang cerdas, berani, arif dan bijaksana; serta mengedepankan
kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Terlebih lagi dalam konteks
ASEAN, pemimpin Indonesia harus juga mampu menjadi pemimpin yang
diterima dan dihormati oleh negara-negara ASEAN dan juga memahami nilai
strategis kemaritiman Indonesia.
Budaya lain yang turut mendukung visi Poros Maritim Dunia adalah
merubah orientasi pembangunan dari Jawa-sentris menuju keluar Jawa. Perlu
dibangun budaya baru dengan kecenderungan untuk memindahkan segala
kegiatan sosial-budaya yang memungkinkan keluar Jawa. Kegiatan sosial-budaya
tersebut dapat berupa pusat politik, pelayaran, perdagangan, industri, perikanan,
pertanian, pendidikan, penelitian, kesehatan, kesenian, dan bahkan hankam keluar
Jawa agar di daerah baru nanti akan menjadi penggerak roda perekonomian
daerah. Sudah sejak kemerdekaan Indonesia di tahun 1945, pusat sosial-budaya
berada di Pulau Jawa. Rencana Presiden Soekarno untuk memindahkan ibukota ke
49

