Page 75 - Pedoman-Evaluasi-Mutu-Gizi-dan-Non-Gizi-Pangan
P. 75
Sampel yang dianalisis kandungan natriumnya melalui berbagai
spektroskopi, harus diabukan terlebih dahulu, baik dengan pengabuan
basah maupun kering. Kandungan natrium dalam pangan dinyatakan
dalam satuan mg per 100 g dan rekomendasi konsumsi harian natrium
dinyatakan dalam satuan mg per hari.
4. Kalium
Ada beberapa metode analisis yang dapat digunakan untuk
menentukan kandungan kalium dalam sampel pangan, metode klasik
seperti titrimetri dan ESI, maupun yang metode yang lebih mutakhir
seperti spektrofotometri emisi nyala, (ICP-ES), maupun
spektrofotometeri serapan atom.
Penggunaan ESI untuk menganalisis kandungan kalium dalam
pangan dilakukan pada beberapa sampel seperti minuman anggur.
Sementara itu, analisis kandungan kalium dalam pangan dapat juga
dilakukan dengan menggunakan metode spektroskopi, seperti misalnya
dengan instrumen SSA. Sampel harus diabukan terlebih dahulu, baik
secara wet ashing maupun dry ashing sebelum kemudian dianalisis
dengan SSA. Kandungan kalium dalam sampel juga dapat dianalisis
dengan spektrofotometer emisi nyala, namun sensitifitasnya lebih
rendah dibandingkan dengan SSA. Kandungan kalium dalam pangan
dinyatakan dalam satuan mg per 100 g dan rekomendasi konsumsi
harian kalium dinyatakan dalam satuan mg per hari.
5. Klorida
Analisis klorida dalam pangan dilakukan menggunakan metode
titrimetri presipitasi maupun metode ESI. Metode titrasi-presipitasi
sesuai digunakan untuk sampel pangan yang memiliki kandungan
klorida yang cukup tinggi. Metode Mohr merupakan metode titrasi
langsung yang berdasarkan pada pembentukan warna oranye dari
perak kromat, setelah perak nitrat membentuk kompleks dengan semua
66

