Page 72 - Pedoman-Evaluasi-Mutu-Gizi-dan-Non-Gizi-Pangan
P. 72

BAB V

                                                MINERAL



               1.  Kalsium
                       Metode  asam  etilenadiaminatetraasetat  (EDTA)  kelatometri  adalah
                   metode analisis yang umum digunakan untuk penentuan kalsium dalam

                   sampel  buah,  sayuran,  dan  pangan  lainnya  dengan  catatan  sampel
                   tidak memiliki kandungan magnesium dan fosfor yang tinggi. Selain itu,

                   analisis  kalsium  dalam  sampel  pangan  juga  dapat  dilakukan  dengan
                   menggunakan elektrode selektif ion (ESI) yang dirancang khusus untuk
                   setiap jenis kation maupun anion.

                       Saat  ini,  instrumen  spektroskofotometer  serapan  atom  (SSA),
                   inductively coupled plasma - atomic emission spectrometry (ICP-AES),

                   maupun  inductively  coupled  plasma  –  mass  spectrometers  (ICP-MS)
                   telah banyak digunakan untuk menganalisis mineral, contohnya kalsium,
                   dibandingkan dengan menggunakan metode klasik seperti titrasi.

                       Analisis  kandungan  kalsium  dalam  sampel  menggunakan  metode
                   EDTA  kelatometri  sebaiknya  dilakukan  pada  pH  10.0  ±  0.1,  dengan
                   menggunakan buffer ammonia, sebab pada pH ini maka kalsium dapat

                   membentuk  kompleks  yang  stabil  dengan  EDTA.  Selain  itu,  pada  pH
                   yang  lebih  tinggi,  misalnya  pH  12.0,  kalsium  akan  terpresipitasi
                   sehingga  hasil  yang  diperoleh  tidak  akurat.  Metode  ini  dinilai  sesuai

                   untuk  digunakan  pada  sampel  buah  dan  sayuran  setelah  sampel
                   melewati  proses  pengabuan.  Sementara  itu,  pengukuran  kandungan

                   kalsium menggunakan ESI biasa dilakukan untuk sampel seperti susu.
                       Metode  spektrofotometri  dapat  digunakan  untuk  menentukan
                   kandungan  kalsium  dalam  sampel  pangan.  Sampel  harus  didestruksi

                   terlebih  dahulu,  baik  dengan  cara  pengabuan  basah  menggunakan
                   asam  maupun  pengabuan  kering  pada  450°C.  Kemudian,  abu  sampel

                   dilarutkan  dalam  asam  lemah  dan  sampel  dianalisis  menggunakan


                                                                                        63
   67   68   69   70   71   72   73   74   75   76   77