Page 150 - Perdana Menteri RI Final
P. 150

217
                                                                                                                                                  penegakan hak-hak rakyat untuk berpolitik,     untuk menciptakan kepemimpinan yang kuat.
                                                                                                                                                  namun ia tidak setuju dengan sistem multipartai   Pilihan siapa tokoh yang dapat menanggulangi
                                                                                                                                                  yang melibatkan jumlah partai yang terlalu     kemelut krisis kemudian jatuh kepada Hatta yang

                                                                                                                                                  banyak. Partai-partai politik dalam bayangannya   dianggap oleh Sukarno sebagai orang yang tepat,
                                                                                                                                                  sebaiknya tidak hanya sekedar berdiri saja     dari luar partai, untuk mengemban tugas berat itu.
                                                                                                                                                  untuk menyemarakkan politik tapi turut
                                                                                                                                                                                                 Tahun 1948 adalah “salah satu  tahun yang
                                                                                                                                                  memperjuangkan kepentingan rakyat banyak.
                                                                                                                                                                                                 paling kritis dan menantang dalam kehidupan
                                                                                                                                                                                                        218
                                                                                                                                                  MEMIMPIN DI TENGAH KRISIS SEBAGAI              Hatta”.  Moh. Roem mengenang bahwa
                                                                                                                                                  PERDANA MENTERI                                “Renville adalah titik kekalahan dalam

                                                                                                                                                                                                 perjuangan dan orang merasa adanya kebutuhan
                                                                                                                                                  KABINET PRESIDENTIL DARURAT                    kabinet yang kuat dan Hatta tampak sebagai

                                                                                                                                                                                                 pemimpin yang terkuat”. Tugas yang menanti
      Presiden Sukarno melantik Kabinet Hatta pada                                                                                                Apabila Sjahrir jatuh dari kursi perdana
      tanggal 20 Februari 1948.                                                                                                                                                                  perdana menteri selanjutnya begitu berat
                                                                                                                                                  menteri akibat perundingan Linggarjati, Amir
                                                                                                                                                                                                 yaitu mengembalikan kepercayaan barisan
      Perpustakaan Nasional Republik Indonesia                                                                                                    Sjarifuddin jatuh dengan cara yang kurang lebih
                                                                                                                                                                                                 bersenjata, termasuk laskar, di dalam negeri
                                                                                                                                                  sama akibat ketidakpuasan partai-partai politik
                                                                                                                                                                                                 dan menjaga kepercayaan luar negeri dengan
                                                                                                                                                  dan  rakyat setelah perundingan Renville  yang
                                                                                                                                                                                                 tetap  memprioritaskan  perjuangan  diplomatik
                                                                                                                                                  dianggap merugikan Indonesia. Berdasarkan
                                                                                                                                                                                                 sebagai   ujung   tombak   mempertahankan
                                                                                                                                                  perjanjian Renville, Republik Indonesia hanya
                                                                                                                                                                                                                      219
                                                                                                                                                                                                 kedaulatan Republik.  Pada tanggal 29
                                                                                                                                                  akan menjadi bagian dari Negara Indonesia
                                                                                                                                                                                                 Januari 1948 “kabinet presidentil”darurat
                                                                                                                                                  Serikat yang akan dibentuk dan dikepalai oleh
                                                                                                                                                  Ratu Belanda. Wilayah Indonesia hanya akan     Hatta dikukuhkan oleh Sukarno. Kabinet
                                                                                                                                                  terdiri atas Jawa Tengah dan daerah-daerah di   ini langsung bertanggung jawab kepada
                                                                                                                                                  Sumatera. Yang paling merugikan bagi Indonesia   Sukarno sebagai presiden bukan kepada KNIP.
                                                                                                                                                  adalah kabinet Amir menyetujui keabsahan “garis   Kabinet ini didukung oleh “golongan tengah”
                                                                                                                                                  van Mook” yang membuat wilayah RI semakin      Masyumi  dan  PNI,  serta  tokoh-tokoh  yang
                                                                                                                                                  berkurang sebab para gerilyawan terpaksa       tidak berpartai. Masyumi adalah partai yang

                                                                                                                                                  meninggalkan wilayah  kantong gerilya  di balik   begitu mempercayai Hatta, sementara itu PNI
                                                                                                                                                                                           215
                                                                                                                                                  garis itu untuk diduduki oleh tentara Belanda.    dikenal memiliki hubungan dekat dengan
                                                                                                                                                  Situasi politik begitu kacau ketika itu karena sulit   Hatta. Meskipun begitu, Hatta tidak mampu
                                                                                                                                                  membayangkan siapa tokoh pemimpin yang mau     mendamaikan sayap kiri yang kini terpecah
                                                                                                                                                  menerima tekanan yang besar untuk menerapkan   belah. Tuntutan sayap kiri dari kelompok Front
                                                                                                                                                  hasil dari perundingan Renville, terutama dalam   Demokrasi Rakyat (FDR) Amir Sjarifuddin
                                                                                                                                                  memerintahkan unit militer Indonesia agar mau   adalah mulanya 10 kursi kabinet, kemudian 8
                                                                                                                                                  menarik diri dari wilayah Republik yang semakin   kursi dengan Amir Sjarifuddin duduk sebagai
      Presiden Sukarno menghadiri sidang kabinet Hatta
                                                                                                                                                                                                                    220
                                                                                                                                                            216
                                                                                                                                                  menyempit.  Pembentukan kabinet yang dapat     menteri pertahanan.  Sementara itu, Hatta
      yang pertama pada tanggal 20 Februari 1948.
                                                                                                                                                  menyatukan seluruh partai-partai politik, menurut   hanya bersedia memberikan 2 kursi karena ingin
      Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
                                                                                                                                                  Kahin, merupakan satu-satunya jalan pintas     membangun kabinet persatuan nasional dari



                           138   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  139
   145   146   147   148   149   150   151   152   153   154   155