Page 149 - Perdana Menteri RI Final
P. 149

oleh PPKI sebagai semacam badan keamanan   boneka Jepang yang bersifat totaliter, yang
 211
 nasional kemudian dianggap sebagai kompromi.   bergantung kepada organisasi militer Jepang.
 Meskipun demikian, kedudukan badan ini di   Selain itu, tantangan tidak hanya datang dari
 bawah  Komite  Nasional  Indonesia  (KNI)  dan   pihak Belanda, kelompok pemuda merasakan
 bukan kementerian pertahanan menimbulkan   bahwa pemerintah tidak mampu untuk
 ketidakjelasan. KNI pada awalnya adalah badan   memenuhi tuntutan yang diminta oleh mereka.
 pendamping pemerintah untuk memobilisasi   Kelompok pemuda, misalnya, tidak puas dengan
 rakyat bukan sebagai badan perwakilan.   ketidakrevolusioneran pemerintah dalam rapat
 Sehingga kedudukan BKR menimbulkan   massa di Ikada dan kelambanannya yang makin
 pertanyaan, ia bukan alat untuk mengamankan   nyata setelah Sekutu datang. Muncul perasaan
 kebijakan pemerintah dalam bidang pertahanan,   bahwa pemerintah tidak semangat melihat
 207
 bukan pula merupakan tentara rakyat.  Mayor   militansi pemuda di ibukota-ibukota daerah.
 Urip menemui Hatta dan mengatakan bahwa   Timbul suatu keyakinan bahwa kelesuan dan
                                                                                             Pertemuan Mohammad Hatta Dr. H. J. van Mook,
 bekas opsir KNIL sepakat untuk menyerahkan   kelambanan itu perlu diakhiri dan hal itu hanya
                                                                                             di Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta.
 tenaga mereka kepada TKR (Tenaga Keamanan   dapat dilakukan dengan merombak pemerintah
                                                                                             Arsip Nasional Republik Indonesia
 Rakyat). Hatta mengatakan kepada Urip bahwa   agar bisa menjalankan langkah-langkah yang
 pemerintah sedang membentuk TKR yang   bisa mengikuti gerak laju perubahan yang
 212
 208
 diambil dari tentara Peta.  Hatta meminta   berlangsung cepat.  Menurut Anderson,
               kekuasaannya dan didesakkan kepadanya oleh      seharusnya terjadi pembagian kekuasaan secara
 Urip untuk bersedia menjadi Kepala TKR dan   ketidakmampuan untuk diterima oleh dunia luar
               tekanan eksternal agar sikap Belanda lebih lunak   jelas dan merata untuk menghindari munculnya
 meminta sarannya mengenai lokasi markas   juga oleh kekuatan revolusioner yang diwakili
                                 214
               terhadap Indonesia.  Sukarno menugasi Hatta     kekuasaan pemimpin yang tidak terkontrol.
 besar TKR, yang kemudian berdasar usul Urip   oleh pemuda di daerah adalah kenyataan yang
               untuk mengeluarkan dekrit yang memberikan
 diputuskan berlokasi di Purwokerto.  semakin jelas menggerogoti semangat juang   Tidak lama setelah Hatta mengumumkan
               kekuasaan legislatif kepada KNIP. Hatta
 kabinet.  213                                                 Maklumat  No.  X,  ia  mengeluarkan  lagi
               menyetujuinya  dan  mengeluarkan  sebuah
 Meskipun Christinson melarang Sekutu untuk                    Maklumat Wakil Presiden pada 3 November
               keputusan yang dikenal sebagai Maklumat
 menyerang Sukarno dan Hatta dan sebetulnya   Perubahan untuk beralih kepada sistem yang   tentang  kesempatan  bagi  rakyat  untuk
               Wakil Presiden No. X pada tanggal 16 Oktober
 telah memberikan semacam pengakuan de facto   lebih demokratis dinyatakan oleh Sjahrir, tokoh   mendirikan partai politik. Maklumat ini
               1945 yang mengumumkan bahwa KNIP sebelum
 terhadap pemerintah Republik, kedatangan   yang lebih dipercaya oleh kelompok pemuda   dikeluarkan atas usul BP KNIP yang memang
               terbentuk Majelis Permusyarawatan Rakyat dan
 Inggris memang mendorong kesukaran baru bagi   karena sikapnya yang keras terhadap fasisme   menginginkan terbentuknya partai-partai politik
 209
 kabinet.  Kedudukan kabinet yang relatif kuat   Jepang. Sjahrir, yang kritis terhadap kekuasaan   Dewan Perwakilan Rakyat diserahi tugas sebagai   untuk mencegah konsepsi sistem satu partai
 sebenarnya didasarkan pada hubungan dengan   ekstra peralihan yang menyebabkan munculnya   badan legislatif dan ikut menetapkan garis-garis   negara (staatspartij)  yang lebih  disukai oleh
 Jepang. Inggris bersedia berurusan dengan   lembaga  kepresidenan, menyarankan KNIP   besar haluan negara. Untuk pekerjaan sehari-hari   Sukarno.  Munculnya  maklumat  tersebut  selain
 kabinet itu untuk memenuhi tujuan-tujuannya   dapat berfungsi secara sementara sebagai badan   maka dibentuklah Badan Pekerja KNIP di mana   memang untuk mendorong proses demokratisasi
 sendiri dengan berusaha memanfaatkan otoritas   legislatif. Sukarno dan Hatta menerima usulan   Sjahrir dan Amir Sjarifuddin menjadi ketua dan   dengan  pemberian  hak-hak  yang  lebih  luas
 mereka. Meskipun demikian, Belanda begitu   ini. Lagipula Sukarno merasakan bahwa ia   wakil ketua. Dengan perubahan ini maka sistem   kepada rakyat untuk berserikat dan berpolitik,
 memusuhi Sukarno dan “menganggap bahwa   perlu menimbulkan kesan yang lebih liberal   pemerintahan Indonesia telah sesuai dengan   juga dikeluarkan untuk mempersiapkan pemilu
 pemerintahannya dibayangi oleh awan hitam   kepada Sekutu. Meskipun, sebetulnya ia sendiri   rancangan UUD, yaitu kabinet presidensial   pertama pasca kemerdekaan yang rencananya
 210
 kolaborasi”.  Belanda menganggap bahwa   ragu untuk menyatukan diri sepenuhnya   yang diimbangi oleh suatu majelis rakyat. Hatta   akan  dilaksanakan di  bulan  Januari  1946.
 pemerintah Indonesia tidak lebih dari pemerintah   dengan peraturan yang akan mengurangi   sendiri meyakini bahwa kekuasan demokratis   Pada  dasarnya,  Hatta  memang  setuju dengan





 136  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  137
   144   145   146   147   148   149   150   151   152   153   154