Page 147 - Perdana Menteri RI Final
P. 147

perebutan kekuasaan  dari Jepang, menurut   menghantui  keduanya  akibat  kedatangan  pegawai negeri dan ningrat), serta Iwa Kusuma   kegiatan mereka untuk membebaskan, merawat,
 Hatta, maka penting untuk ditunjuk sebagian   Sekutu, yang diboncengi Belanda, ke Indonesia.   Sumantri (mewakili golongan Islam).  201  dan  mengevakuasi  tahanan  pasukan  Sekutu
                                                                                            203
 besar menteri yang telah duduk pada pucuk   Belanda yang ingin kembali berkuasa merasa   dan melucuti tentara Jepang.  Tapi pihak
               Pihak Sekutu menganggap bahwa proklamasi
 pimpinan departemen sebagai  butjo (kepala)   bahwa merekalah penguasa yang legitimate atas   Belanda tidak mau mengakui kemerdekaan
               kemerdekaan Indonesia  adalah  semata-mata
 198
 atau sanjo (penasihat).  Dengan cara itu maka   wilayah Indonesia, meskipun faktanya Indonesia   Indonesia  dengan  menganggap  bahwa
               tipu muslihat Jepang. Meskipun demikian,
 saluran administratif ke bawah yang dikuasi   telah memerdekakan diri. Untuk mengantisipasi   Indonesia merupakan  boneka  Jepang. Pada
               ketika pada tanggal 15  September 1945
 Jepang dapat segera direbut dan orang-orang   potensi adanya kekosongan kekuasaan akibat   pertemuan tanggal 23 Oktober 1945, Christison
               Laksamana Muda Patterson, wakil dari Lord
 Jepang dengan mudah disingkirkan. Dari 16   Sukarno dan Hatta ditangkap sewaktu-waktu,   mempertemukan antara Van der Plas dan Van
               Mountbatten, komandan Inggris wilayah Asia
 orang  menteri  yang  diangkat, beberapa di   maka pernah dibuat sebuah testamen politik   Mook dengan Sukarno, Hatta, Subardjo, dan
               Tenggara, menerima saran dari Jepang untuk
 antaranya pernah bergerak di Perhimpunan   yang mengantisipasi kemungkinan seperti   Agus Salim. Van Mook mengungkapkan bahwa
               tidak memperlakukan Sukarno dan Hatta
 Indonesia, seperti Ahmad Soebardjo, Iwa   itu. Sukarno menyetujui bahwa apabila ia   Belanda ingin Indonesia berada di bawah Belanda
               sebagai penjahat perang karena akan memancing
 Kusuma Sumantri, Sartono, dan Samsi, dan jelas   dan Hatta ditangkap maka Tan Malaka akan   dalam model pemerintahan persemakmuran.
 merupakan orang-orang yang keahliannya telah   ditunjuk untuk melanjutkan kepemimpinan   kerusuhan dalam skala luas di Indonesia.   Namun, Hatta berkomentar: “Mengapa kami
 dikenal oleh Hatta dengan baik. Sjahrir menolak   mempertahankan kemerdekaan. Pandangan   Patterson menyarankan kepada Mountbatten   harus  menekukkan lutut kami kepada seorang
                                                                         204
 masuk dalam kabinet dengan mengecam bahwa   sang legenda Tan Malaka yang tiba-tiba muncul   untuk  menahan  pasukan  Sekutu di  wilayah   ratu asing?”  Menurut Hatta, Ratu Wilhemina
               kota-kota pantai yang merupakan kunci dan
 kabinet berisi orang-orang yang memiliki   dan bertemu Sukarno, mampu meyakinkan   tentu ingin mempertahankan luas kerajaannya
               memberikan kesempatan kepada Belanda untuk
 karakter tidak kuat dan terbiasa mematuhi   Sukarno bahwa roda revolusi harus terus berputar   “sama dengan kesungguhan keinginan rakyat
                                                        202
 perintah Belanda dan Jepang. Disepakati pula   dengan kepemimpinan yang berlanjut. Sejak   melakukan penetrasi lebih ke dalam nantinya.    Indonesia untuk merdeka, bebas dari bentuk
 bahwa wilayah Republik Indonesia terbagi atas   masa  pergerakan,  karya  dan  pemikiran  Tan   Mounbatten menerima advis dari Patterson   apa pun dari dominasi asing. Keinginan untuk
 delapan provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah,   Malaka begitu mempengaruhi Sukarno muda,   dan memerintah Jenderal Christison, panglima   merdeka sesuai dengan detak jantung sejarah
 Jawa  Timur,  Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,   oleh sebab itu ia tidak berpikir panjang membuat   sekutu baru di wilayah Indonesia, untuk   bangsa-bangsa dan sesuai dengan prinsip semua
 Sunda Kecil, dan Maluku. Sukarno dan Hatta   wasiat seperti itu.  membiarkan pemerintahan Indonesia berjalan di   bangsa, pada saatnya, mengatur persoalan
 dalam  hal  ini  juga  mengeluarkan  maklumat   wilayah Sumatera dan Jawa, kecuali di wilayah   mereka sendiri”. 205
 Namun, ketika Sukarno membicarakannya
 kepada  seluruh  lapisan  rakyat  Indonesia  untuk   kota pantai.
 dengan Hatta, terjadi perubahan dalam                         Instabilitas yang menghantui republik muda
 bersama-sama berpartisipasi membangun negara
 testamen tersebut. Hatta melihat bahwa   Kekecewaan terhadap Sekutu dikemukakan oleh   mendorong Hatta menerima saran dari banyak
 Indonesia merdeka. Menurut Deliar Noer,
 ditunjuknya  Tan  Malaka  belum  tentu  Sukarno dan Hatta muncul karena siaran radio   pihak, terutama Didi Kartasasmita dan Urip
 “memproklamasikan kemerdekaan lebih mudah
 menjamin kesatuan perjuangan. Justru Hatta   Belanda dari Australia yang menyatakan bahwa   Sumohardjo, keduanya aktif dalam ketentaraan
 daripada  mempertahankannya,  apalagi  buat
 melihat bahwa golongan komunis tentu   NICA (Netherlands Indies Civil Administration)   Hindia Belanda di masa sebelum perang.  Urip
                                                                                                   206
 pemerintah dan rakyat Indonesia yang dalam
 tidak akan mendukung Tan Malaka dan ini   yang membonceng Sekutu akan mengambil alih   mengungkapkan pendapatnya tentang perlunya
 bulan Agustus 1945 lebih banyak berdasar
 200
 akan melemahkan perjuangan.  Hatta lalu   Indonesia kembali. Hatta menulis surat kepada   pendirian tentara republik. Keputusan dari PPKI
 semangat dan kemauan”. 199
 mengusulkan  agar pewaris  kepemimpinan   Christison bahwa agar tidak terjadi pertumpahan   untuk membubarkan Peta dan Heiho, pasukan
 Di antara Sukarno  dan Hatta ada  semacam   diperbanyak untuk dibuat menjadi perwakilan   darah maka (1) tidak ada lagi tentara Belanda yang   milisi yang paling sporadik di Jawa, diterima
 perjanjian, bahwa jika seorang di antara   yang lebih representatif menampilkan berbagai   datang ke Indonesia, (2) semua tentara Belanda   dengan  kekecewaan  oleh  para  pemuda.  Salah
 mereka berada di luar kota, yang lain harus   golongan. Ditunjukklah empat orang yang   keluar dari Indonesia dan tidak beroperasi di   seorang tokoh pemuda, Wikana, mendesak
 siap menghadapi persoalan dan mengambil   terdiri dari Tan Malaka (mewakili golongan   bawah Sekutu, (3) NICA nonaktif, (4) mengakui   agar pemerintah membentuk tentara nasional
 keputusan. Ini dilakukan untuk mempersiapkan   kiri ekstrim), Sjahrir (mewakili kalangan   de facto pemerintah Republik Indonesia, dan (5)   yang mempersatukan milisi Peta dan Heiho.
 diri dari kemungkinan penangkapan yang   sosialis  moderat), Wongsonegoro (mewakili   tentara Sekutu dan tentara Belanda membatasi   Pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR)





 134  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  135
   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152