Page 174 - Perdana Menteri RI Final
P. 174
Hatta yang merasa tidak sejalan lagi dengan dari PSI dan Masyumi, seperti Sjahrir, Roem,
visi dan kebijakan yang diambil Sukarno dan Prawoto, yang dituduh terlibat dalam gerakan
kemudian memutuskan mengundurkan diri teror yang ingin membunuh Sukarno dalam
sebagai wakil presiden. Hatta memilih menjadi kunjungannya ke Makassar tahun 1962. Hatta lalu
seorang warga negara biasa di mana ia bisa berkirim surat ke Sukarno menentang penangkapan
bebas berpendapat menyuarakan kegelisahan ini:
dan ketidaksetujuannya dengan langkah-
“Kita selalu mengembor-gemborkan bahwa
langkah yang diambil pemerintah apabila hal
negara kita berdasarkan Pancasila, tetapi
itu mengancam kedaulatan rakyat. Keputusan
di mana keadilan, perikemanusiaan,
pengunduran diri Hatta ini tentu saja
mengagetkan banyak pihak. Kepemimpinan demokrasi yang sebenarnya. Adakah
Dwitunggal yang dipercaya dan didamba oleh demokrasi, kalau orang rata-rata merasa
banyak pemimpin sipil, militer, nasional, dan takut, harus tutup mulut, kritik tidak
Perdana Menteri RIS Mohammad Hatta meninjau
daerah harus berakhir. Akhirnya, di penghujung diperbolehkan, sehingga berbagai hal yang
kapal perang Hang Tuah di Surabaya.
tahun 1950-an, Dwitunggal telah berubah tidak dipertanggungjawabkan berlaku
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
menjadi Dwitanggal. leluasa?” 265
TERUS MEMIKIRKAN BANGSA Karena kritik dan sikapnya yang keras terhadap berusaha mencari kacamatanya supaya ia dapat ekonomi pemerintah untuk membahas berbagai
Sukarno ini, Hatta seringkali mendapatkan
melihat kawan karibnya itu dengan jelas. Dua masalah ekonomi. Namun, pemikiran ekonomi
Setelah tidak mengemban jabatan sebagai wakil
hambatan dalam menjalankan aktivitasnya.
hari setelah pertemuan itu Sukarno meninggal Hatta yang lebih ke arah sosialisme ekonomi
presiden, Hatta kembali menjadi seseorang yang
Ia dilarang pergi Austria tahun 1962 untuk
dunia. berseberangan dengan politik ekonomi Orde
memperjuangkan keadilan sosial dan kedaulatan
menghadiri konferensi kerjasama ekonomi
Baru yang condong meneggakkan kapitalisme.
rakyat. Hatta tidak segan-segan mengkritik Sukarno
negeri-negeri non-komunis. Ia juga sempat Transisi kekuasaan dari Demokrasi Terpimpin
dalam posisinya sebagai warga biasa, terutama
dilarang untuk memberi kuliah di universitas ke Orde Baru sempat menimbulkan harapan Selain itu, Hatta juga kecewa dengan tidak
mengingatkan betapa visi dan kepemimpinannya
dan Sekolah Staf Komando Angkatan Bersenjata bagi Hatta untuk membangun Indonesia lebih membaiknya iklim demokrasi di masa
telah melampaui jauh wewenang yang seharusnya di Bandung. Meskipun sering berseberangan tertib, damai, dan sejahtera. Hatta menyatakan Orde Baru dibandingkan masa Demokrasi
dimiliki dan telah melanggar nilai-nilai demokratis
dengan Sukarno, Hatta tetap menganggap bahwa bahwa penting untuk Indonesia kembali Terpimpin. Keinginannya untuk mendirikan
yang susah payah dibangun Indonesia sebelumnya. Sukarno adalah sahabatnya. Ketika kondisi sakit melakukan mekanisme pembagian kekuasaan Partai Demokrasi Islam Indonesia bersama
Hatta mengkritik sahabatnya tersebut tentang Sukarno memburuk akibat tahanan rumah yang sebelumnya tidak berjalan di masa Sukarno. dengan para tokoh-tokoh aktivis Islam dilarang
demokrasi terpimpin yang telah melenceng keluar yang diberlakukan Orde Baru, Hatta meminta Meskipun demikian, harapannya tersebut oleh pemerintah. Hatta semakin ragu dengan
jauh dari jalurnya dalam tulisannya Demokrasi izin untuk menjenguk bung besar. Pertemuan berubah menjadi kekecewaan yang meningkat. komitmen Soeharto menegakkan demokrasi
Kita. Akibat tulisannya ini, Sukarno marah besar dua proklamator itu berlangsung penuh haru, Hal ini ditumpahkan Hatta dalam kritik- ketika sepertiga jumlah anggota DPR diangkat
dan membredel Panji Masyarakat yang pertama Hatta menanyakan kabar Sukarno dan Sukarno kritiknya terhadap pemerintahan Soeharto. Di pada pemilu 1971, padahal pemilu itu sendiri
kali memuat tulisan itu. Hamka yang merupakan membalasnya lemah dengan bahasa Belanda, antara kritiknya pada pemerintah Orde Baru merupakan mekanisme memilih wakil rakyat.
pemimpin redaksi terbitan itu kemudian ditahan “Hoe gaat het meet jou?”. Hatta duduk diam adalah mengenai berubahnya jalan ekonomi Pemilu yang diadakan pun tidak lepas dari
karena mempublikasikan tulisan itu. Hatta juga sambil memegang tangan Sukarno, pelan-pelan yang ditempuh rezim dari dasar-dasar ekonomi kritik Hatta karena dilakukan dengan penuh
bersuara lantang atas penangkapan yang dilakukan air matanya meleleh melihat kondisi Bung Karno yang menjadi tujuan raison d’etre Indonesia. intimidasi dan berlangsung dengan tidak
oleh Sukarno terhadap musuh-musuh politiknya yang memprihatinkan. Sementara, Sukarno Mulanya Hatta ikut dilibatkan oleh tim transparan dan demokratis. Hatta sempat
162 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 163

