Page 192 - Perdana Menteri RI Final
P. 192

Sementara itu, aktivitasnya yang intens        PBB berlangsung di Rumah Sakit Bethesda.                                ‘SINGLE FIGHTER’: BERPOLITIK TANPA
                           di Yogyakarta menjadi salah satu faktor        Dalam pertemuan itu, pihak PBB menyampaikan                             TUNGGANGAN

                           kedekatannya dengan Sri Sultan Hamengku        keinginannya untuk mengembalikan Yogyakarta
                                                                                                                                                  Halim menyebut dirinya sebagai  a loner atau
                           Buwono IX, terutama setelah Agresi Belanda II.   pada  Republik  Indonesia  dengan  satu  syarat
                                                                                                                                                  seorang penyendiri. Meskipun mempunyai
                           Tetapi hubungan personalnya dengan Sri Sultan   bahwa Indonesia tidak akan jatuh di tangan
                                                                                                                                                  kedekatan dengan Sjahrir, Sjafruddin, Natsir,
                           dimulai dengan pertemuan mereka dalam Kereta   komunis. Halim menerima tawaran dengan
                                                                                                                                                  Roem, Prawoto, Mangunsarkoro dan Lukman
                           Api dalam perjalanan ke Jakarta dari Yogyakarta.   menawarkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX
                           Ketika kereta berhenti dan Halim keluar untuk   sebagai penjamin mengingat posisinya sebagai                           Hakim yang masing-masing bergabung dalam
                                                                                                                                                  partai politik, Halim menganggap dirinya
                           membeli minuman, Sri Sultan mengikutinya
                                                                          penguasa tertinggi dan pelaksana pengembalian
                                                                                                                                                  sebagai seorang ‘pejuang tunggal.’ Sikapnya
                           dan  mereka  membeli  es  serut  dari  pedagang                    37
                                                                          Yogya pada Republik.
                                                                                                                                                  yang fleksibel dalam berpolitik mengindikasikan
                           kaki lima. Halim merasa terkesan akan sosok
                           raja  yang  merakyat.  Hubungan  mereka berdua   Pada 4 Juli 1949 Halim bersama Leimena dan                            mudahnya Halim mendapat simpati dari                                         Mr. Susanto Tirtoprodjo, mantan Menteri
                                                                                                                                                                                                                               Kehakiman Kabinet Hatta II yang kemudian
                           juga diperkuat karena hobi keduanya dalam hal   Natsir diminta untuk menjemput pemerintahan                            berbagai  golongan  partai.  Keikutsertaannya                                menjadi Perdana Menteri peralihan antara Kabinet
                           olah raga; Sri Sultan merupakan seorang kiper   darurat Republik Indonesia (PDRI) yang                                 dalam rapat partai-partai juga menggambarkan                                 Hatta dan Abdul Halim
                           sepak bola ketika tinggal di Haarlem waktu     dikepalai oleh Sjafruddin Prawiranegara.                                kedekatan Halim dengan beragam tokoh                                         Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
                           periode mahasiswanya. Pada tahun 1950an,       PDRI tidak menerima keputusan perjanjian                                partai. Sebagian tokoh politik lain seperti, Mr.
                           hubungan Halim dan Sri Sultan berlanjut        Roem-Royen pada bulan Mei 1949 karena                                   Sartono dari PNI menganggap bahwa Halim
                                                                                                                                                                                                 ketidak-setujuan atas nama pribadi atau partai
                           dalam bentuk pertemuan olah raga ataupun       PDRI     merasa   yang   berwenang    untuk                             merupakan bagian dari klik Sjahrir dilihat
                                                                                                                                                                                                 dalam menanggapi hasil perjanjian tersebut.
                           dalam kapasitas mereka sebagai pemangku        mewakili Republik Indonesia, bukan para                                 dari  kedekatan pribadi mereka.  Kedekatannya
                                                                                                                                                                                                 Berbeda dengan golongan Masyumi dan PNI,
                           badan  olah  raga  nasional.  Halim  menuturkan                                                                        dengan Sjahrir dikarenakan gagasan-gagasan
                                                                          pemimpin yang sedang ditahan di Bangka.
                           betapa dekatnya hubungannya dengan Sri Sultan                                                                          Sjahrir yang dianggapnya sangat rasional begitu   Halim termasuk golongan yang menyetujui
                                                                          Untuk menghindari adanya konfrontasi antara
                                                                                                                                                              39
                           sehingga ia bisa mendatangi kamar tidur Sri                                                                            memukaunya.  Halim juga menyukai pribadi       perjanjian tersebut dengan pertimbangan bahwa
                                                                          PDRI dan pemerintahan di Jawa maka Hatta
                                                           35
                           Sultan untuk berbincang dengannya.  Keduanya                                                                           dari  bung kecil,  sebutan  banyak  kalangan  yang   langkah diplomasi bertujuan untuk mendapatkan
                                                                          meminta bantuan Halim untuk mendampingi
                           memanfaatkan jasa kurir untuk bertukar                                                                                 dekat  dengan  Sjahrir,  yang  berperawakan    pengakuan. Pengakuan kedaulatan merupakan
                                                                          Leimena dan Natsir. Kedekatan Halim dengan
                           informasi tentang  kondisi politik terkini.                                                                            mungil tetapi memiliki keberanian yang besar   salah satu tahapan awal sebuah fase perjuangan
                                                                          Sjafruddin merupakan salah satu pertimbangan                                                                                           40
                           Penangkapan para menteri termasuk Sukarno-                                                                             dan memegang prinsip kepercayaannya dengan     yang perlu dilalui.
                                                                          Hatta untuk memintanya ke Sumatera Barat.
                           Hatta untuk dibawa ke luar Yogyakarta membuat                                                                          teguh. Bagaimanapun, kedekatan pribadi kedua
                                                                          Proses kembalinya PDRI pada Republik                                                                                   Dalam tahap ini, strategi politik paling utama
                           koordinasi antara Halim dan Sri Sultan semakin                                                                         orang ini membuat banyak kalangan luar PSI
                                                                                                                    38
                                                                          berjalan dengan lancar dan tanpa paksaan.                                                                              pada perang pasca kemerdekaan adalah
                           sering  dilakukan. Meskipun  setelah  Agresi  II                                                                       untuk mengira Halim sebagai anak buah dari
                                                                          Peran aktif Halim dalam BP-KNIP, posisinya                                                                             melakukan     internasionalisasi  perjuangan
                           Sultan dilarang untuk melakukan menerima                                                                               Sjahrir. Posisi ini kadang menyulitkan posisinya,
                                                                          yang ada di Yogyakarta ketika terjadi Agresi                                                                           kemerdekaan. Pernyataan PBB dan banyak
                           tamu dari luar Kraton, tetapi keduanya seringkali                                                                      khususnya karena anggapan ini cukup kuat di
                                                                          I dan II, serta kedekatannya dengan tokoh                                                                              negara yang mengutuk serangan Belanda
                           mengadakan pertemuan di dalam lingkungan                                                                               kalangan orang-orang Masyumi.
                                                                          politik berpengaruh seperti Hatta, Sjahrir,                                                                            terhadap Indonesia menandakan keberhasilan
                           Kraton. 36
                                                                          Sri Sultan maupun kelompok PDRI tanpa                                   KNIP turut ambil suara berhubungan dengan      diplomasi dan propaganda yang dilancarkan
                           Setelah Serangan Umum 1 Maret 1949,            disadari menempatkannya di tengah sebagai                               hasil  perundingan-perundingan,   termasuk     oleh  Republik.  Berbagai  tahapan diplomasi
                           perwakilan PBB datang ke Indonesia untuk       tokoh penghubung yang berkontribusi dalam                               Linggarjati yang diadakan pada akhir 1946.     yang melibatkan perwakilan Indonesia untuk
                           menemui Halim yang pada saat itu berada di     diplomasi personal yang banyak membantu                                 Dalam sidang pleno KNIP di Malang tahun        merundingkan kedaulatan menjadi pembuka
                           Yogyakarta. Pertemuan antara Halim dan utusan   mengkondisikan keadaan yang genting saat itu.                          1947, Halim banyak mendengarkan pernyataan     jalan dalam mencapai kedaulatan penuh. Selain





                           180   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  181
   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197