Page 193 - Perdana Menteri RI Final
P. 193

Sementara itu, aktivitasnya yang intens   PBB berlangsung di Rumah Sakit Bethesda.   ‘SINGLE FIGHTER’: BERPOLITIK TANPA
 di Yogyakarta menjadi salah satu faktor   Dalam pertemuan itu, pihak PBB menyampaikan   TUNGGANGAN

 kedekatannya dengan Sri Sultan Hamengku   keinginannya untuk mengembalikan Yogyakarta
               Halim menyebut dirinya sebagai  a loner atau
 Buwono IX, terutama setelah Agresi Belanda II.   pada  Republik  Indonesia  dengan  satu  syarat
               seorang penyendiri. Meskipun mempunyai
 Tetapi hubungan personalnya dengan Sri Sultan   bahwa Indonesia tidak akan jatuh di tangan
               kedekatan dengan Sjahrir, Sjafruddin, Natsir,
 dimulai dengan pertemuan mereka dalam Kereta   komunis. Halim menerima tawaran dengan
               Roem, Prawoto, Mangunsarkoro dan Lukman
 Api dalam perjalanan ke Jakarta dari Yogyakarta.   menawarkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX
 Ketika kereta berhenti dan Halim keluar untuk   sebagai penjamin mengingat posisinya sebagai   Hakim yang masing-masing bergabung dalam
               partai politik, Halim menganggap dirinya
 membeli minuman, Sri Sultan mengikutinya
 penguasa tertinggi dan pelaksana pengembalian
               sebagai seorang ‘pejuang tunggal.’ Sikapnya
 dan  mereka  membeli  es  serut  dari  pedagang   37
 Yogya pada Republik.
               yang fleksibel dalam berpolitik mengindikasikan
 kaki lima. Halim merasa terkesan akan sosok
 raja  yang  merakyat.  Hubungan  mereka berdua   Pada 4 Juli 1949 Halim bersama Leimena dan   mudahnya Halim mendapat simpati dari   Mr. Susanto Tirtoprodjo, mantan Menteri
                                                                                             Kehakiman Kabinet Hatta II yang kemudian
 juga diperkuat karena hobi keduanya dalam hal   Natsir diminta untuk menjemput pemerintahan   berbagai  golongan  partai.  Keikutsertaannya   menjadi Perdana Menteri peralihan antara Kabinet
 olah raga; Sri Sultan merupakan seorang kiper   darurat Republik Indonesia (PDRI) yang   dalam rapat partai-partai juga menggambarkan   Hatta dan Abdul Halim
 sepak bola ketika tinggal di Haarlem waktu   dikepalai oleh Sjafruddin Prawiranegara.   kedekatan Halim dengan beragam tokoh   Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
 periode mahasiswanya. Pada tahun 1950an,   PDRI tidak menerima keputusan perjanjian   partai. Sebagian tokoh politik lain seperti, Mr.
 hubungan Halim dan Sri Sultan berlanjut   Roem-Royen pada bulan Mei 1949 karena   Sartono dari PNI menganggap bahwa Halim
                                                               ketidak-setujuan atas nama pribadi atau partai
 dalam bentuk pertemuan olah raga ataupun   PDRI  merasa  yang  berwenang  untuk  merupakan bagian dari klik Sjahrir dilihat
                                                               dalam menanggapi hasil perjanjian tersebut.
 dalam kapasitas mereka sebagai pemangku   mewakili Republik Indonesia, bukan para   dari  kedekatan pribadi mereka.  Kedekatannya
                                                               Berbeda dengan golongan Masyumi dan PNI,
 badan  olah  raga  nasional.  Halim  menuturkan   dengan Sjahrir dikarenakan gagasan-gagasan
 pemimpin yang sedang ditahan di Bangka.
 betapa dekatnya hubungannya dengan Sri Sultan   Sjahrir yang dianggapnya sangat rasional begitu   Halim termasuk golongan yang menyetujui
 Untuk menghindari adanya konfrontasi antara
                            39
 sehingga ia bisa mendatangi kamar tidur Sri   memukaunya.  Halim juga menyukai pribadi   perjanjian tersebut dengan pertimbangan bahwa
 PDRI dan pemerintahan di Jawa maka Hatta
 35
 Sultan untuk berbincang dengannya.  Keduanya   dari  bung kecil,  sebutan  banyak  kalangan  yang   langkah diplomasi bertujuan untuk mendapatkan
 meminta bantuan Halim untuk mendampingi
 memanfaatkan jasa kurir untuk bertukar   dekat  dengan  Sjahrir,  yang  berperawakan   pengakuan. Pengakuan kedaulatan merupakan
 Leimena dan Natsir. Kedekatan Halim dengan
 informasi tentang  kondisi politik terkini.   mungil tetapi memiliki keberanian yang besar   salah satu tahapan awal sebuah fase perjuangan
 Sjafruddin merupakan salah satu pertimbangan                                  40
 Penangkapan para menteri termasuk Sukarno-  dan memegang prinsip kepercayaannya dengan   yang perlu dilalui.
 Hatta untuk memintanya ke Sumatera Barat.
 Hatta untuk dibawa ke luar Yogyakarta membuat   teguh. Bagaimanapun, kedekatan pribadi kedua
 Proses kembalinya PDRI pada Republik                          Dalam tahap ini, strategi politik paling utama
 koordinasi antara Halim dan Sri Sultan semakin   orang ini membuat banyak kalangan luar PSI
 38
 berjalan dengan lancar dan tanpa paksaan.                     pada perang pasca kemerdekaan adalah
 sering  dilakukan. Meskipun  setelah  Agresi  II   untuk mengira Halim sebagai anak buah dari
 Peran aktif Halim dalam BP-KNIP, posisinya                    melakukan     internasionalisasi  perjuangan
 Sultan dilarang untuk melakukan menerima   Sjahrir. Posisi ini kadang menyulitkan posisinya,
 yang ada di Yogyakarta ketika terjadi Agresi                  kemerdekaan. Pernyataan PBB dan banyak
 tamu dari luar Kraton, tetapi keduanya seringkali   khususnya karena anggapan ini cukup kuat di
 I dan II, serta kedekatannya dengan tokoh                     negara yang mengutuk serangan Belanda
 mengadakan pertemuan di dalam lingkungan   kalangan orang-orang Masyumi.
 politik berpengaruh seperti Hatta, Sjahrir,                   terhadap Indonesia menandakan keberhasilan
 Kraton. 36
 Sri Sultan maupun kelompok PDRI tanpa   KNIP turut ambil suara berhubungan dengan   diplomasi dan propaganda yang dilancarkan
 Setelah Serangan Umum 1 Maret 1949,   disadari menempatkannya di tengah sebagai   hasil  perundingan-perundingan,  termasuk  oleh  Republik.  Berbagai  tahapan diplomasi
 perwakilan PBB datang ke Indonesia untuk   tokoh penghubung yang berkontribusi dalam   Linggarjati yang diadakan pada akhir 1946.   yang melibatkan perwakilan Indonesia untuk
 menemui Halim yang pada saat itu berada di   diplomasi personal yang banyak membantu   Dalam sidang pleno KNIP di Malang tahun   merundingkan kedaulatan menjadi pembuka
 Yogyakarta. Pertemuan antara Halim dan utusan   mengkondisikan keadaan yang genting saat itu.   1947, Halim banyak mendengarkan pernyataan   jalan dalam mencapai kedaulatan penuh. Selain





 180  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  181
   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197   198