Page 302 - Perdana Menteri RI Final
P. 302

Jika tidak ada pertandingan yang disaksikan,   sangat berbeda. Purworejo adalah kota,                                  PENGGEMBLENGAN                                 dengan Kotabaru. Selama di Yogyakarta, Wilopo
                           Wilopo  dan teman-temannya  akan bertanding    sedangkan Loano lebih bersifat pedesaan. Bagi                                                                          tinggal di rumah pamannya, Mas Nirman yang
                                                                                                                                                  Sekolah MULO berada di kota Magelang.
                           bola sendiri.                                  Pak Mantri Guru, perpindahan ini tidak lagi                                                                            seorang pensiunan kepala sekolah.
                                                                                                                                                  Selama belajar di sana, Wilopo mondok di rumah
                                                                          bisa ditawar, karena pekerjaan barunya sebagai
                           Sepakbola dimainkan di alun-alun kota                                                                                  Janda Wedana Bendungan dengan  geldkost        Pelajaran  di  sekolah  dapat  dikuasainya  dengan
                                                                          SO (School Opziener) membuatnya harus tinggal                           sebesar f.12.5,- setiap bulannya. Untuk keperluan
                           Purworejo yang tata ruangnya masih mengikuti                                                                                                                          cukup baik. Artinya Wilopo yang memang
                                                                          di Sekolah. Bagi Wilopo, perpindahan ini tidak                          ini, uang bulanan diberikan oleh dokter Soekadi.
                           konsep tradisional catur gatra dengan dua                                                                                                                             dikenal  sebagai  pribadi  yang  serius  tidak
                                                                          menimbulkan masalah. Ia sudah sangat terbiasa                           Pada bulan keenam, Wilopo mulai menerima
                           beringin besar di tengahnya, serta terdapat                                                                                                                           tertinggal dengan teman-temannya. Hanya saja
                                                                          dengan suasana desa. Ia suka pergi ke desa                              beasiswa. Dan ia juga memperoleh rapelan
                           kantor bupati, dan masjid di dekatnya. Tempat                                                                                                                         pada saat itu, Wilopo juga sudah mulai masuk
                                                                          mengikuti anak-anak lain yang tinggal ditempat                          beasiswa selama enam bulan dari masa studinya
                           tinggal Wilopo berada di pusat kota, tidak jauh                                                                                                                       dalam organisasi pergerakan yang ternyata
                                                                          Pak Mantri Guru pulang kampung ketika ada                               yang dilaluinya dengan biaya dokter Soekadi
                           alun-alun dan Pecinan. Pecinan adalah kawasan                                                                                                                         cukup banyak menyita waktu dan perhatiannya.
                                                                          libur sekolah.                                                          yang besarnya mencapai f.120,-. Selama sekolah,
                           yang selalu ramai karena banyak toko dan                                                                                                                              Menjelang masa studinya berakhir, ia menyadari
                                                                                                                                                  ia berkawan dekat Abdulrasjid, teman bermain
                           menjadi pusat perdagangan. Sesekali Wilopo                                                                                                                            bahwa terdapat nilai salah satu pelajaran yang
                                                                          Tiga tahun tinggal di Loano, Wilopo sudah                               bola sekaligus kakak tingkat dua tahun di atas
                           datang  ke  Pecinan  untuk  membeli kebutuhan                                                                                                                         rata-rata, walaupun untuk mata pelajaran
                                                                          hampir menyelesaikan sekolahnya. Tak berselang                          Wilopo. Mereka banyak menghabiskan waktu
                           sekolah.                                                                                                                                                              yang lain nilainya cukup bagus. Keadaan ini
                                                                          lama kemudian, keluarga ini pindah lagi ke                              saat  liburan untuk  pergi  bersama,  dengan
                                                                                                                                                                                                 membuatnya sulit untuk memperoleh beasiswa
                           Wilopo  bersekolah  di  HIS  (Hollands Indische   Purworejo. Kini giliran Wilopo yang sudah                            menggunakan sisa uang kost. Selain bermain bola,
                                                                                                                                                                                                 untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang
                           School), sekolah Belanda untuk kaum bumiputera.   mengantongi  ijazah  HIS  harus  menentukan                          Wilopo juga masuk dalam organisasi kepanduan
                                                                                                                                                                                                 berikutnya.  Akhirnya,  Wilopo  memang  tamat
                           Karena  Pak  Mantri  Guru  Prawirodihardjo     langkah yang akan ia tempuh selanjutnya. Pak                            Natipij (Nationaal Islamistische Padvinderij) milik
                                                                                                                                                                                                 dari AMS-B namun tanpa jaminan akan
                           menguasai  bahasa  Belanda  dengan  baik,      Mantri Guru tentu memilih OSVIA, bahkan                                 Sarikat Islam dimana ia memperoleh pelajaran
                                                                                                                                                                                                 memperoleh beasiswa untuk studi berikutnya.
                           sebenarnya Wilopo memiliki kesempatan          ia  sudah  mempersiapkan  udheng  (ikat kepala)                         sholat. Walaupun ia tumbuh  dan dibesarkan
                           untuk bersekolah di ELS (Europesche Lagere     untuk Wilopo, sebab sudah menjadi adatnya jika                          dalam keluarga Pak Mantri Guru yang memeluk
                                                                                                                                                                                                 Dalam kondisi ini, Wilopo merasakan bahwa apa
                           School) yang lebih elit. Bahkan pamannya       para  pelajar  OSVIA  mengenakan  ikat  kepala                          Islam, tampaknya ia lebih kuat dalam memegang
                                                                                                                                                                                                 yang dahulu pernah direncanakan Pak Mantri
                           yang  menyekolahkan  anak-anaknya  di  ELS     sebagai pelengkap busana mereka. Pertimbangan                           tradisi Jawa.  Dari  Pak  Mantri  Guru,  Wilopo
                                                                                                                                                                                                 Guru untuk memintanya sekolah di OSVIA
                           menjamin bahwa Wilopo pasti diterima jika      memasukan  Wilopo  ke  sekolah  itu  sebenarnya                         kerap memperoleh pelajaran yang disampaikan
                                                                                                                                                                                                 setelah tamat HIS ada benarnya. Karena selepas
                           mendaftar di sana. Akan tetapi Pak Mantri                                                                              dalam bait-bait tembang.
                                                                          sederhana saja. Harapannya, ketika Wilopo lulus
                                                                                                                                                                                                 OSVIA ia lebih mudah untuk memperoleh
                           Guru Prawirodihardjo memiliki rencana lain.
                                                                          nanti ia akan mudah dapat kerja, dan waktu
                                                                                                                                                  Setelah menempuh pendidikannya selama empat    pekerjaan. Sedangkan sebagai lulusan AMS-B,
                           Ia menginginkan Wilopo kelak dapat menjadi
                                                                          untuk menuju lulus juga tidak terlalu lama.
                                                                                                                                                  tahun, Wilopo memperoleh ijazah MULO.          walaupun juga terbuka peluang bekerja, Wilopo
                           pegawai bumiputra, maka oleh karena itu ia ingin
                                                                          Selama itu, Pak Mantri Guru masih sanggup                                                                              juga berkeinginan melanjutkan sekolahnya.
                           Wilopo melanjutkan sekolahnya ke OSVIA                                                                                 Kawannya, Abdulrasjid memilih untuk tidak
                                                                          memberinya biaya. Hanya saja atas saran dari                                                                           Hanya saja untuk meminta ongkos dari Pak Mantri
                           (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren)                                                                          melanjutkan studi untuk bekerja sebagai  klerk
                                                                          seorang saudaranya, rencana ini berubah. Wilopo                                                                        Guru juga tidak lagi memungkinkan karena
                           setelah tamat dari HIS.                                                                                                (juru tulis) di Semarang. Nasib Wilopo lain
                                                                          kemudian masuk MULO (Meer Uitgebreid Lager                                                                             biaya sekolah di THS (Technischehoogeschool)
                                                                                                                                                  cerita. Ia beruntung nilai raportnya cukup baik
                           Selama bersekolah, Wilopo pernah pindah        Onderwijs) yang memungkinkannya setelah lulus                           sehingga mempermudahnya untuk memperoleh       seperti yang ia cita-citakan ditambah lagi
                           rumah, mengikuti Pak Mantri Guru yang juga     untuk  meneruskan  ke AMS  dan perguruan                                beasiswa. Karena itu, Wilopo berangkat ke      dengan biaya hidup tidak akan dapat dibayar
                           pindah tugas. Dari kota Purworejo mereka       tinggi. Untuk sementara waktu, masalah                                  Yogyakarta untuk menyambung sekolahya di       oleh orang tuanya tanpa memperoleh besiswa.
                           pindah ke Loano yang walaupun jaraknya tidak   keuangan untuk biaya sekolah Wilopo dapat                               AMS-B Yogyakarta. Sekolah Wilopo berada        Untuk memecahkan persoalan ini, Pak Mantri
                           terlalu jauh terpaut beberapa kilometer saja,   teratasi berkat bantuan seorang kerabat yang                           di kawasan yang merupakan enclave bagi orang-  Guru mengajaknya berembug. Tetapi kali ini
                           namun coraknya dan kehidupan masyarakatnya     berkerja sebagai dokter.                                                orang Belanda yang tinggal di kota ini, dikenal   bukan  hanya  mereka  berdua  saja,  melainkan





                           290   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  291
   297   298   299   300   301   302   303   304   305   306   307