Page 389 - Perdana Menteri RI Final
P. 389

kali masa kepemimpinannya. Diantara sejumlah   Lebih dari itu, Ia mendidik anaknya—yang   ENDNOTES
 pencapaiannya itu, Ali Sastroamidjojo memiliki   sempat merasakan kehidupan Eropa—dengan

 peran penting untuk menempatkan Indonesia   bahasa ibu. Alasannya sederhana, ia melakukan   1   Ali Sastroamidjojo, Tonggak-tonggak di Perjalananku,   21  Ali Sastroamidjojo, op, cit., hlm. 338.
                   (Jakarta: PT. Kinta, 1974), hlm. 311.
 dalam percaturan politik dunia.  dekoloniasasi mulai dari keluarga. Kiprah yang   22  Ali Sastroamidjojo, ibid.
               2   Sebenarnya Ali gamang dalam menetukan pilihan, oleh
 ditunjukan Ali Sastroamidjojo baik sebagai                    23  Ali Sastroamidjojo, ibid, hlm. 325.
                   karenanya ia tetap mengikuti ujian Sekolah Teknik dan
 Ali Sastroamidjojo dikenal dengan visi   pribadi maupun sebagai politisi dan tokoh bangsa   HBS. Hasilnya, Ali dinyatakan lulus untuk kedua-duanya.  24  Herbert Feith memberi estimasi angka 2.125 sebagai batas
                                                                  minimal, dan dimungkinkan jumlahnya melampaui angka
 internasionalnya yang sangat kuat yang   menunjukan arti penting seorang putra bangsa   3   R. Elson, Idea of Indonesia: a history,  (New York:   tersebut antara 4.000 hingga 5.000 pada 1954. Lihat Feith,
                   Cambridge University Press, 2009)
 diperolehnya  dari  pengalaman  hidup  selama   untuk mendunia tanpa kehilangan jati diri ke-  Decline, hlm. 375. Thomas Lindblad mengindikasikan
               4   Ali Sastroamidjojo, Empat Mahasiswa di Negeri Belanda   besarnya kenaikan yang mencapai 76% ini tidak
 bersekolah di Leiden, menjadi wakil dalam   Indonesiaannya.  tahun 1927, (Jakarta: Idayu Press, 1977), hlm, 35-7.  menggambarkan kondisi sebenarnya dimana pertumbuhan
                                                                  pesat dialami oleh pengusaha pribumi (‘asli’) karena
 berbagai  usaha  diplomasi  internasional,  5   Harry A Poeze, Di Negeri Penjajah : Orang Indonesia di   kerancuan dalam konstruksi Ali-Baba. Lindblad, op.cit,
                   Negeri Belanda 1600-1950, (Jakarta : KPG bekerja sama
                                                                  hlm. 8.
 representasi Indonesia di Washington, dan   dengan KITLV Jakarta, 2014), hlm. 210.
                                                               25  Lihat Hebert Feith, op. cit., hlm. 375.
 kunjungan-kunjungannya ke berbagai penjuru   6   Ali Sastroamidjojo, op.cit, (Jakarta: PT. Kinta, 1974), hlm.
                   180-1.                                      26  Ali Sastroamidjojo, op. cit., 325.
 dunia. Selama menjalankan mandat untuk
               7   Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in   27  Ali Sastroamidjojo, ibid, hlm. 336.
 memimpin cabinet, banyak kebijakannya yang   Indonesia, (Jakarta : Equinox Pub, 2007), hlm. 341.
                                                               28  Penyelenggaraan pemilu lokal yang lebih awal dilaksanakan
 disandarkan pada pandangan akan peran   8   Ali Sastroamidjojo, op. cit, hlm. 313.  di Penyelenggaraan pemilu di Karesidenan Kediri (11 Juli
                                                                  1946), Surakarta (10 Desember 1946), dan Kalimantan
 penting yang harus diambil bangsa Indonesia   9   Dikutip dari P.N.H. Simanjutak, Kabinet-kabinet Republik   Selatan (1948). Uji Nugroho Winardi, “pengantar”
                   Indonesia: dari awal kemerdekaan sampai reformasi, (Jakarta :
                                                                  dalam Uji Nugrho Winardi, dkk. Jogja Memilih: Sejarah
 dalam arus sejarah dunia. Oleh karenanya   Djambatan, 2003), hlm. 162.
                                                                  Pemilu 1951 dan 1955 di Yogyakarta, (Yogyakarta: Dinas
 Indonesia kemudian hadir  dalam panggung   10  Soemitro Djojohadikoesoemo, dalam Thee Kian Wie,   Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, 2018), hlm. 3.
                   Pelaku Birkisah, hlm. 20-21, Hebert Feith, The Decline of
                                                               29  Ali Sastroamidjojo, op. cit.,
 politik internasional sebagai negara yang belum   Constitutional Democracy in Indonesia, (Jakarta : Equinox
                   Pub, 2007), hlm. 371.                       30  Ali Sastroamidjojo, Tonggak-tonggak Diperjalananku,
 lama merdeka namun memiliki semangat kuat                        (Jakarta : PT. Kinta, 1974), hlm. 330., Badruzzaman
               11  Sjafruddin Prawiranegara, dalam Thee Kian Wie, Pelaku
 dan kontribusi besar dalam menjaga perdamaian   Birkisah, hlm. 45.  Busyairi, Boerhanoeddin Harahap: Pilar demokrasi, (Jakarta:
                                                                  Bulan Bintang untuk Panitia Buku Boerhanoeddin
 dunia, maupun dalam menentang imperialisme.   12  Bruce Glassburner, “Economic Policy-Making in   Harahap, 1989), hlm. 58., Soegiarso Soerojo, Siapa
                   Indonesia, 1956-1957”, dalam Bruce Glassburner.,(ed.) The   Menabur Angin Akan Menuai Badai, (Jakarta : S. Soerojo,
 Peran  penting  ini  dimainkan  Indonesia  tatkala   Economy of Indonesia: Selected Readings, (Kuala Lumpur:   1988), hlm. 66,
                   Equinox Edition 2007), hlm. 87.
 dunia sedang dilanda krisis besar akibat Perang               31  Hebert Feith, op. cit., hlm. 143.
               13  Misalkan lihat dalam J. Thomas Lindblad, “The Importance
 Dingin.           of Indonesianisasi during the Transition from the 1930s   32  Abdul Haris Nasution, Tjatatan2 sekitar politik militer
                                                                  Indonesia, (Djakarta: Pembimbing, 1955), hlm. 176.
                   to the 1960s”, (makalah konferensi) Economic Growth
                   and Institutional Change in Indonesia in the 19th and 20th   33  Taufik Abdulah, “Regionalisme dan Sentralisme”, 323.
 Terlepas dari gagasan maupun kiprahnya yang   Centuries, Amsterdam, 25-26 February 2002, hlm. 7.
                                                                  Terbentuknya RIS dan RI hanya merupakan salah satu
                   Artikel ini diterbitkan dengan judul yang sama dalam
 mendunia, Ali Sastroamidjojo adalah sosok yang                   negara bagian, Menteri Dalam Negeri RI tidak menyetujui
                   Itinerario Vol. 26, Issue 3-4 November 2002 , pp. 51-71.   adanya Provinsi Aceh, yang secara otomatis juga berarti
 tidak pernah kehilangan jati dirinya sebagai   14  B. Higgins., All the Difference: A Development Economist’s   menolak pengangkatan Daud Buerueh sebagai gubernur.
                                                                  Pada masa Kabinet Natsir, Aceh masuk menjadi bagian dari
                   Quest. (Montreal: McGill-Queen’s, 1992), hlm. 51.
 seorang Indonesia. Walaupun menjulang tinggi,                    Provinsi Sumatera Utara.
               15  Howard Dick, “Formation of the nation-state, 1930s–1966”
 ia tetap memegang akar-akar tradisi. Ketika para              34  B.J. Boland, The Struggle of Islam in Modern Indonesia,
                   dalam Howard Dick, et.al., (eds.), The Emergence of a
                                                                  (Dordrecht : Springer Netherlands, 2013), hlm. 74, lihat
 tokoh berpendapat bahwa peci sebagai identitas   National Economy: An economic history of Indonesia, 1800–  pula Tim Buku Tempo, Seri Tempo: Daud Beureueh, 2-3.
                   2000 (Crows Nest: Asian Studies Association of Australia
 nasional, namun mulai menanggalkan sarung   in association with Allen & Unwin; Honolulu : University   35  B.J. Boland megindikasikan bahwasanya dokumen ini
                   of Hawai’i Press, 2002), hlm. 174.             tidak pernah ada, sedangkan Kees Van Dijk menyiratkan
 karena memandangnya sebagai hal yang kuno, Ali
               16  Hebert Feith, op, cit., hlm. 366.              bahwa dokumen berisi daftar nama tokoh-tokoh Aceh ada.
 Sastroamidjojo menyatakan ketidaksetujuannya,                    Indikasinya, kegaduhan politik ini sengaja dihembuskan
               17  Hebert Feith, ibid.                            kelompok kiri dari Jakarta. C. van Dijk, ‘Aceh, the rebellion
 dan menyatakan bahwa sarung juga bagian dari                     of the Islamic scholars’, dalam Rebellion under the Banner of
               18  Ali Sastroamidjojo, op. cit., hlm. 335.
                                                                  Islam: The Darul Islam in Indonesia, (Leiden: Brill, 1981).
 identitas nasional Indonesia juga. Ia dan istrinya   19  Hebert Feith, op. cit, hlm. 373.
                                                               36  Nazaruddin Sjamsuddin, The Republican Revolt: A Study
 juga membawa suasana Indonesia di Amerika.   20  J. Thomas Lindblad, op. cit.,   of the Acehnese Rebellion (Publisher: Singapore: Inst. of
 376  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  377
   384   385   386   387   388   389   390   391   392   393   394